<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Penghuni - penghuni Ruang Kota</title>
	<atom:link href="http://penghunikota.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://penghunikota.wordpress.com</link>
	<description>...dekati dengan empati dan kenali dengan hati...</description>
	<lastBuildDate>Sat, 25 Apr 2009 16:23:47 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='penghunikota.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/0b7f02aa8626e06aee92e5c714b6ce29?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Penghuni - penghuni Ruang Kota</title>
		<link>http://penghunikota.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Menata PKL</title>
		<link>http://penghunikota.wordpress.com/2009/02/10/menata-pkl/</link>
		<comments>http://penghunikota.wordpress.com/2009/02/10/menata-pkl/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Feb 2009 08:18:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>djarotpurbadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penghunikota.wordpress.com/?p=55</guid>
		<description><![CDATA[Kedaulatan Rakyat, 10 Februari 2009
Oleh: Dr HA Nurmandi
DALAM kunjungan ke kawasan industri Cibitung, tiba-tiba saja Presiden SBY melontarkan seruan agar pejabat publik menghentikan penggusuran pedagang kaki lima (PKL). Seruan disampaikan menanggapi keluhan Dirut PT Sinar Sosro yang mengungkap kerugian yang selalu dialami akibat aksi petugas trantib yang membuat para PKL kehilangan mata pencaharian. (KR, 6/2).
Sebenarnya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penghunikota.wordpress.com&blog=5088715&post=55&subd=penghunikota&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Kedaulatan Rakyat, 10 Februari 2009</p>
<p>Oleh: Dr HA Nurmandi</p>
<p><span style="margin-right:5px;padding:5px;"><strong>DALAM </strong>kunjungan ke kawasan industri Cibitung, tiba-tiba saja Presiden SBY melontarkan seruan agar pejabat publik menghentikan penggusuran pedagang kaki lima (PKL). Seruan disampaikan menanggapi keluhan Dirut PT Sinar Sosro yang mengungkap kerugian yang selalu dialami akibat aksi petugas trantib yang membuat para PKL kehilangan mata pencaharian. (KR, 6/2).</span></p>
<p><span style="margin-right:5px;padding:5px;">Sebenarnya seruan itu tidak perlu. Bila saja, semua pihak menaati keberadaan regulasi yang sudah lengkap. Karena di dalam rencana tata ruang wilayah (RTRW) selalu sudah ada alokasi bagi keberadaan PKL. Regulasi yang mestinya juga disikapi dan ditindaklanjuti dengan kehadiran peraturan daerah (perda) di masing-masing kota di negeri ini.</span></p>
<p><span style="margin-right:5px;padding:5px;">Dalam kenyataan, belum ada regulasi di semua daerah. Banyak daerah sekadar improvisasi dalam menata PKL. Artinya, kalau ada desakan masyarakat maka akan direspons. Jika tidak, ya barangkali seperti akan ‘menutup mata’ dengan semua persoalan ini. Dengan kata lain, sebagian besar yang terjadi ini tidak tersistem dalam kebijakan pemerintah daerah (pemda). Bahkan imbauan yang dilakukan Presiden SBY beberapa hari lalu sebenarnya hanyalah sebagai respons saja, bukan sesuatu hal yang memang menjadi sebuah kebijakan. </span></p>
<p><span style="margin-right:5px;padding:5px;">Apalagi soal PKL, pemerintah pusat sudah tidak memiliki kewenangan lagi. Karena soal ini sudah menjadi kewenangan pemda di masing-masing daerah. Sehingga seruan yang dilontarkan Presiden SBY itupun bisa dikatakan tidak ada makna lagi. Kecuali merespons apa yang disampaikan seseorang, seruan politis dan mungkin juga dalam rangkaian tebar pesona. Sekalipun presiden mengimbau namun kalau daerah akan melakukan penggusuran, apa yang hendak dilakukan?</span></p>
<p><span style="margin-right:5px;padding:5px;">PKL adalah juga pelaku usaha sebagaimana sektor formal. Sebagai pelaku usaha yang menjadi katup pengaman ekonomi rakyat, PKL perlu diperlakukan sebagaimana umumnya pelaku usaha lain. Karena dengan modal pas-pasan, keberadaannya telah mampu menciptakan lapangan kerja, memberi kesempatan kerja dan lainnya. Sehingga perlu disejajarkan dengan sektor formal. Mungkin keberadaannya akan umpek-umpekan, tidak indah bila dilihat dan seakan merusak keindahan kota. Namun kehadirannya adalah sebagai katup pengamanan di tengah kesulitan perekonomian zaman sekarang ini. Karenanya perlu dibuatkan regulasi dengan perda, agar tidak hanya sekadar omong kosong dalam membinanya.</span></p>
<p><span style="margin-right:5px;padding:5px;">Apapun namanya, PKL itu dicaci, dibenci dan dirindu serta dicari. Bahkan keberadaan PKL bisa menjadi aset wisata suatu kota. Mungkin bisa dibayangkan Malioboro tanpa kakilima, akan seperti apa. Bukankah hampir semua pengunjung Malioboro juga ada keinginan wisata nostalgia sekalipun kadang mencaci kakilima yang tidak teratur? Tetapi ‘legenda’ Malioboro pula yang membuat seseorang harus ke Malioboro ketika berkunjung ke Yogyakarta? </span></p>
<p><span style="margin-right:5px;padding:5px;">Karena itu keberadaan PKL harus ditata dan di-setting dengan baik supaya bisa menjadi sebuah aset wisata yang luar biasa. Kota Solo dan sebagian Yogya adalah contoh menata PKL dengan baik dan bisa dijadikan aset wisata. Pemerintah Solo yang dengan berani membuat kategori-kategori telah membuat kawasan wisata baru yang seringkali sekadar memanfaatkan keberadaan kaki lima. Meski Solo juga ‘mengundang bahaya’ karena apa yang dilakukan Walikota Jokowi tanpa berlandaskan peraturan daerah. ‘Mengundang bahaya’ karena bisa saja nanti semua yang sudah tertata baik ini akan ‘berganti acara’ ketika walikota juga berganti, karena tiadanya aturan hukum yang melandasi kekuatannya.</span></p>
<p><span style="margin-right:5px;padding:5px;">PKL adalah aset wisata dan katup pengaman ekonomi yang perlu mendapat perhatian sebagaimana sektor formal. Keberadaannya harus dilihat dan dimenej dengan baik. Sehingga pertama pemerintah kota harus membuat RTRW sesuai UU No 26/2007 tentang Penataan Ruang yang baru. Dengan demikian, semaksimal mungkin akan meminimalkan terjadinya penggusuran. Kedua karena di dalam RTRW sudah dialokasikan ruang untuk non-formal. Kalau sudah masuk dalam regulasi, keberadaannya akan kuat.</span></p>
<p><span style="margin-right:5px;padding:5px;">Sehingga yang perlu diperjuangkan adalah keberadaan regulasi ini. Bukan dengan protes-protes para pedagang dan bukan dengan aksi-aksi penggusuran yang kadangkala tidak manusiawi juga. Cara-cara protes dan penggusuran tidak hanya akan membuat tarik ulur, namun membuat kebijakan tidak terstruktur dengan baik. Tanpa kebijakan dan regulasi yang jelas, penggusuran masih akan selalu menjadi wajah sektor yang seringkali didengungkan sebagai katup pengaman ekonomi Indonesia ini. (Sebagaimana dikemukakan pakar manajemen perencanaan kota Fisip UMY kepada Fadmi S)-a</span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/penghunikota.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/penghunikota.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/penghunikota.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/penghunikota.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/penghunikota.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/penghunikota.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/penghunikota.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/penghunikota.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/penghunikota.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/penghunikota.wordpress.com/55/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penghunikota.wordpress.com&blog=5088715&post=55&subd=penghunikota&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penghunikota.wordpress.com/2009/02/10/menata-pkl/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c9eaa45ba147dc871c0f03f703cd3059?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">djarotpurbadi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mas Yanto Juragan Ayam Goreng</title>
		<link>http://penghunikota.wordpress.com/2009/02/09/mas-yanto-juragan-ayam-goreng/</link>
		<comments>http://penghunikota.wordpress.com/2009/02/09/mas-yanto-juragan-ayam-goreng/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Feb 2009 02:20:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>djarotpurbadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ayam Goreng]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penghunikota.wordpress.com/?p=53</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Djarot Purbadi, Sudaryono dan Achmad Djunaedi
Mas Yanto yang berusia sekitar 35 tahun adalah penduduk desa Modinan. Ia telah beberapa tahun belakangan ini berusaha menjalankan bisnis ayam goreng ala Kentucky. Mas Yanto adalah penduduk asli Modinan yang termasuk maju dan berkembang dalam bisnis di jalur PKL. Selama ini penduduk asli Modinan atau Guyangan jarang yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penghunikota.wordpress.com&blog=5088715&post=53&subd=penghunikota&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal">Oleh: Djarot Purbadi, Sudaryono dan Achmad Djunaedi</p>
<p>Mas Yanto yang berusia sekitar 35 tahun adalah penduduk desa Modinan. Ia telah beberapa tahun belakangan ini berusaha menjalankan bisnis ayam goreng ala Kentucky. Mas Yanto adalah penduduk asli Modinan yang termasuk maju dan berkembang dalam bisnis di jalur PKL. Selama ini penduduk asli Modinan atau Guyangan jarang yang berhasil dalam mengembangkan bisnis PKL. Dagangan mas Yanto hanya ayam goreng yang diberi tepung, digoreng menjadi ayam goreng ala kentucky, disajikan dengan gerobak PKL yang berkaca.</p>
<p>Ia memulai usaha penjual ayam goreng pada sekitar tahun 2000 dan sampai saat ini berjalan relatif lancar, menguntungkan dan dapat menciptakan lapangan kerja baru. Kini Mas Yanto telah memiliki gerobak sebanyak 4 (empat) buah yang dijalankan oleh orang-orang upahannya. Orang upahannya satu orang berasal dari Magelang (bukan saudara) dan yang tiga lainnya adalah saudaranya. Rumahnya saat ini menjadi tempat memproduksi “Ayam Yanto” karena semua bahan yang dijualnya disiapkan di rumah tersebut. Istrinya membantunya mengelola masakan ayam goreng Yanto ini di rumahnya, tidak dilakukan di tepi jalan. Ayam Yanto disiapkan di rumah dan dijual di tepi jalan Godean.</p>
<p>Ayam Yanto semula berada di selatan Mirota Kampus Godean dengan satu gerobak. Pada tahun 2002 ia dipaksa pindah karena lahan kosong di dekatnya akan dibangun toko. Ayam Yanto ini ketika di selatan Mirota Godean menjadi “idola” banyak orang karena murah dan enak. Pada waktu itu tempatnya sangat stratejik, sehingga orang cepat datang dan cepat pergi, sehingga frekuensi penjualan sangat tinggi. Akibatnya, ia mendapat keuntungan yang sangat memadai. Peristiwa proses pernjualan ayam goreng di tempat itu mirip proses “drive through” yang terjadi di ayam Mac D. Pembeli cepat datang dan segera dilayani lalu cepat-cepat pergi.</p>
<p>Kini Ayam Yanto ada di empat tempat, yakni dua tempat di sepanjang jalan Godean, satu di Pasar Kranggan dan satu lagi di dekat Mirota Kampus jalan C. Simanjuntak. Dari gerobak awal yang sangat menguntungkan ini, Pak Yanto kemudian terusir dari sana dan mencoba menempati area di sebelah barat semula dan di pintu masuk jalan ke Nogotirto. Artinya, ketersingkiran Ayam Yanto bukan dilihat sebagai sebuah petaka melainkan peluang untuk menambah gerobak dan memilih lokasi yang baru. Brand Image “Ayam Yanto” memang sudah terbentuk, minimal bagi orang-orang yang rutin melewati jalan Godean. Bagi Mas Yanto pindah di manapun tidak masalah, asalkan masih di jalan Godean pastilah mudah ditemukan para langganannya. Itulah yang terjadi dengan Ayam Yanto.</p>
<p>Bisnis Mas Yanto ternyata berkembang. Ia mempertahankan bisnis pokok sambil mengembangkan satu gerobak untuk menjual “tahu chicken” atau yang oleh para PKL lain disebut “tahu kentucky”. Ia masih ingin mempertahankan pola bisnis yang jualannya dapat dihitung (countable), sehingga kontrol terhadap anak buahnya dapat dengan mudah dilakukan.  Mengingat jauhnya lokasi berjualan dengan “markas” Ayam Yanto yang ada di Modinan, maka ia mewajibkan anak buahnya menyimpan gerobak di dekat tempat mangkalnya. Akibatnya, proses persiapan berjualan dilakukan dengan cara membawa bahan-bahan yang siap masak dari rumahnya ke tempat mangkal gerobak. Bahan ayam dan tahu biasanya dibawa di dalam drum-drum plastik kecil yang mudah dibawa dengan sepeda motor. Ayam Yanto dan tahu Kentucky memang digoreng di pinggir jalan.  Kalau pada awalnya, Mas Yanto sendiri terjun di lapangan untuk menjual Ayam Goreng Yanto, sekarang ia justru hanya berkeliling untuk mengontrol para anak buahnya yang menjualkan dagangannya. Kesibukan ini menjadi hal yang rutin terjadi setiap sore hingga malam hari dan merupakan konskuensi dari bisnisnya yang terus berkembang. Mas Yanto sekarang ternyata sudah menjadi juragan ayam goreng kentucky, meski masih juragan kecil.</p>
<p class="MsoNormal">(Sumber: catatan wawancara lapangan, Desember 2005)</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p class="MsoNormal">Ir. Y. Djarot Purbadi, MT, kandidat doktor Arsitektur pada Program Pasca-sarjana Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada</p>
<p class="MsoNormal">Ir. Sudaryono, M.Eng.PhD, asisten profesor pada Jurusan Teknik Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada</p>
<p class="MsoNormal">Ir. Achmad Djunaedi, MUP, Ph.D, profesor pada Jurusan Teknik Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada</p>
<p class="MsoNormal">
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/penghunikota.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/penghunikota.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/penghunikota.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/penghunikota.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/penghunikota.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/penghunikota.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/penghunikota.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/penghunikota.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/penghunikota.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/penghunikota.wordpress.com/53/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penghunikota.wordpress.com&blog=5088715&post=53&subd=penghunikota&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penghunikota.wordpress.com/2009/02/09/mas-yanto-juragan-ayam-goreng/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c9eaa45ba147dc871c0f03f703cd3059?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">djarotpurbadi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Angkringan Pak Suyanto</title>
		<link>http://penghunikota.wordpress.com/2008/12/11/angkringan-pak-suyanto/</link>
		<comments>http://penghunikota.wordpress.com/2008/12/11/angkringan-pak-suyanto/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Dec 2008 18:11:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>djarotpurbadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Angkringan]]></category>
		<category><![CDATA[Kaki Lima]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penghunikota.wordpress.com/2008/12/11/angkringan-pak-suyanto/</guid>
		<description><![CDATA[Pak Suyanto, biasa dipanggil Pak Yanto, beragama Kristen, tepatnya Kristen Pentakosta, dan bertempat lahir di Yogyakarta pada tangga] 31 Desember 1948. Artinya,  pada akhir tahun 2003 ini Pak Suyanto genap berusia 55 tahun. Status Pak Yanto adalah sudah menikah dengan Bu Lastri yang lahir pada tahun 1954 dan sekarang berusia 49 tahun.Dari pernikahan ini, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penghunikota.wordpress.com&blog=5088715&post=30&subd=penghunikota&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Pak Suyanto, biasa dipanggil Pak Yanto, beragama Kristen, tepatnya Kristen Pentakosta, dan bertempat lahir di Yogyakarta pada tangga] 31 Desember 1948. Artinya,  pada akhir tahun 2003 ini Pak Suyanto genap berusia 55 tahun. Status Pak Yanto adalah sudah menikah dengan Bu Lastri yang lahir pada tahun 1954 dan sekarang berusia 49 tahun.Dari pernikahan ini, mereka telah dikarunia empat orang anak, yang paling tua berusia 31 tahun dengan pendidikan terakhir SMEA; yang kedua sudah tamat SMA 17 Gowongan Bumijo; yang ketiga masih sekolah di SMUN di Kendari, sedang yang bungsu yang berumur 10 tahun masih duduk di bangku sekolah dasar (SD) Gondolayu. Pendidikan terakhir Pak Yanto sendiri adalah SMA kelas 1 pada tahun 1966. Saat ini Pak Yanto dan keluarga berdomisili di Jogoyudan, Yogyakarta.</p>
<p>Pekerjaan pokok Pak Yanto saat ini adalah sebagai pedagang angkringan, sedangkan pekerjaan Bu Lastri istrinya adalah sebagai ibu rumah tangga, dan juga membantu suami di angkringan. Waktu bagi Bu Lastri membantu suami (Pak Yanto) di angkringan biasanya berkisar dan pukul 08.00 WIB sampai dengan pukul 13.00 WIB; tapi harinya tidak menentu, tergantung situasi dan kondisi. Waktu selain itu, dihabiskan Bu Lastri untuk melaksanakan pekerjaan yang umum sebagai ibu rumah tangga. Waktu kerja (buka) Pak Yanto sendiri di angkringan adalah dan pukul 07.00 WIB sampai dengan pukul 17.00 WIB.</p>
<p>Untuk waktu pekerjaan persiapan dagangan, Pak Yanto hanya menghabiskan waktu 30 menit sampai 1 jam. Hal ini dikarenakan dagangan Pak Yanto tidak dimasak sendiri melainkan dibeli di pasar Kranggan kurang lebih pada pukul 06.30 WIB karena saat itu makanan masih baru dan segar.Kalau seandainya dagangannya tidak habis terjual, maka hal tersebut sudah menjadi tanggungan / risiko pak Yanto sendiri. Selain itu juga ada dagangan yang merupakan titipan dari orang. Khusus yang titipan ini, kalau dagangannya tidak habis, risikonya ditanggung oleh penitip, bukan oleh Pak Yanto. Jadi pekerjaan persiapan Pak Yanto dan istrinya hanyalah berbelanja, menatanya di gerobak, dan mendorongnya ke jalan Pangeran Mangkubumi.</p>
<p>Waktu antara pukul 18.00 WIB sampai dengan pukul 06.00 WIB dihabiskan Pak Yatm untuk beristirahat di rumahnya di Jogoyudan. Sedangkan waktu libur (tidak buka) bagi Pak Yanto adalah hari Minggu, karena pada hari itu dikhususkan olehnya untuk berdoa bagi Tuhan, termasuk ibadah ke Gereja Pentakosta.</p>
<p>Pada saat angkringannya buka, biasanya Pak Yanto memiliki langganan tetap yaitu karyawan kantor dan atau toko di sekitar tempat la &#8220;mangkal&#8221; Selain itu, ada juga pembeli yang silih berganti yaitu para pejalan kaki pedestrian yang lewat di sana.</p>
<p>Status gerobak Pak Yanto adalah miiik sendiri, sedangkan status tempat ia berjualan di jalan Pangeran Mangkubumi bersifat tidak permanen, karena pada saat dagangannya tutup, pak Yanto akan membawa pulang semua atribut dagangannya ke rumah, kecuali gerobak dan bangku yang diparkirnya di bekas kantor departemen tenaga kerja (Depnaker) yang kondisi fisiknya saat ini sudah rusak parah. Komplek bangunan itu dimanfaatkan untuk tempat parkir kendaraan bermotor, di samping di beberapa titik tercium aroma pesing, karena memang ada orang yang memanfaatkannya untuk buang kotoran atau hajat, apalagi diperparah dengan kondisi jalan Pangeran Mangkubumi yang tidak memiliki MCK umum yang memadai sampai saat ini.</p>
<p>Walaupun Pak Yanto membawa pulang atributnya, orang lain (sesama pedagang) tidak akan merebut lokasi yang sudah ditempatinya, karena lokasi tersebut sudah menjadi &#8220;milik&#8221; Pak Yanto menurut kesepakatan spontan mereka, sesama pedagang.</p>
<p>Khusus untuk pengalaman kerja, Pak Yanto sudah cukup banyak &#8220;makan garam&#8221;. Pada tahun 1973 ia mengikuti proyek Pabrik Semen Cibinong, Jawa Barat; pada tahun 1976 bekerja di PT Nusantara-Cilacap; pada tahun 1978 di PT Bogasari-Jakarta; pada tahun 1979-1982 di Perusahaan Gula Kebon Agung-Malang, Jawa Timur. Pada tahun 1982 ia pindah ke Kendari dan membuka usaha dagang Soto sampai dengan tahun 1997, sampai akhirnya Pak Yanto pindah ke Yogyakarta, dan pada tahun 1998 ia mulai menjalani pekerjaan barunya sebagai pedagang angkringan di jalan Pangeran Mangkubumi sampai sekarang.</p>
<p>Pak Yanto pun memplesetkan nama warungnya dengan singkatan WTS : &#8220;Warung Trotoar Suyanto&#8221;, ditulis di terpal birunya. Hal lain yang unik adalah semua gelas tangkainya diberi Tanda Salib besar dengan cat biru, simbol ke-Kristenannya.</p>
<p>(Sumber: diedit dan disempurnakan dari catatan lapangan Maximillian / 9328 TA, tahun 2003).</p>
<p>Pada waktu catatan ini dibuat Maximillian Nalang Firman Demorin adalah mahasiswa Prodi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Sekarang Max sudah lulus. Catatan lapangan ini ditayangkan untuk memperkaya informasi tentang fenomena PKL di Yogyakarta, yang pernah menjadi bahan kajiannya dalam tugas Kerja Praktek Lapangan. Tayangan tulisannya di blog ini merupakan bentuk penghormatan atas jerih-payahnya mengungkapkan fenomena angkringan di Jl. Mangkubumi, Yogyakarta.</p>
<p>Djarot Purbadi</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/penghunikota.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/penghunikota.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/penghunikota.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/penghunikota.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/penghunikota.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/penghunikota.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/penghunikota.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/penghunikota.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/penghunikota.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/penghunikota.wordpress.com/30/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penghunikota.wordpress.com&blog=5088715&post=30&subd=penghunikota&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penghunikota.wordpress.com/2008/12/11/angkringan-pak-suyanto/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c9eaa45ba147dc871c0f03f703cd3059?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">djarotpurbadi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Angkringan Pak Darmono</title>
		<link>http://penghunikota.wordpress.com/2008/12/11/angkringan-pak-darmono-di-jalan-mangkubumi/</link>
		<comments>http://penghunikota.wordpress.com/2008/12/11/angkringan-pak-darmono-di-jalan-mangkubumi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Dec 2008 17:43:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>djarotpurbadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Angkringan]]></category>
		<category><![CDATA[Kaki Lima]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penghunikota.wordpress.com/2008/12/11/angkringan-pak-darmono-di-jalan-mangkubumi/</guid>
		<description><![CDATA[Pak Darmono adalah seorang penjual makanan dengan angkringan, beragama Islam, lahir di Klaten pada tanggal 20 Maret 1964. Pada waktu wawancara dilakukan ini berarti Pak Darmono berusia 39 tahun. Pak Darmono sudah menikah secara resmi pada tahun 1995 dengan istri kedua yang bernama Aminah, yang lahir pada tahun 1980 dan sekarang berusia 23 tahun. Dari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penghunikota.wordpress.com&blog=5088715&post=27&subd=penghunikota&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Pak Darmono adalah seorang penjual makanan dengan angkringan, beragama Islam, lahir di Klaten pada tanggal 20 Maret 1964. Pada waktu wawancara dilakukan ini berarti Pak Darmono berusia 39 tahun. Pak Darmono sudah menikah secara resmi pada tahun 1995 dengan istri kedua yang bernama Aminah, yang lahir pada tahun 1980 dan sekarang berusia 23 tahun. Dari pernikahannya ini, Pak Darmono dikaruniai seorang anak yang baru berusia 2 tahun. Dengan demikian, anak Pak Darmono sebenarnya ada dua. Anak pertama dari istri pertama seorang laki-laki sudah lulus SMU tahun 2003 ini. Anak pertamanya berusia 18 tahun, terpaut dua tahun lebih muda dari istrinya. Pendidikan terakhir Pak Darmono sendiri adalah SLTA di Klaten dan lulus pada tahun 1984. Saat ini pak Darmono sekeluarga berdomisili di Jogoyudan Rw XX / YY Yogyakarta.</p>
<p>Pekerjaan pokok Pak Darmono pada saat ini adalah sebagai pedagang angkringan, sedangkan pekerjaan Bu Aminah istrinya adalah ibu rumah tangga dan membantu suami (Pak Darmono) di angkringan. Adapun waktu pekerjaan pokok (buka) Pak Darmono di angkringan ada 10 jam yaitu dari pukul 17.00 WIB s.d. pukul 03.00 WIB. Pada jam tersebut, Pak Darmono akan dibantu oleh Bu Aminah istrinya, Mas Paimin keponakannya, dan Bu De-nya, apalagi kalau pengunjung dan atau pembelinya banyak atau kalau Pak Darmono sendiri sedang ada urusan yang lain.</p>
<p>Pekerjaan persiapan dimulai dari pagi hari, dengan waktu yang tidak tentu, dan yang membantu menyiapkan dagangan ini adalah Bu De-nya dan Mas Paimin keponakannya. Pak Darmono sendiri baru terlibat dalam pekerjaan persiapan ini setelah pukul 11.00 WIB, karena waktu sebelum itu, tepatnya pukul 04.00 WIB sampai dengan pukul 11.00 WIB merupakan waktu istirahat bagi Pak Darmono.</p>
<p>Hari istirahat (tidak buka) untuk Pak Darmono sebagai pedagang angkringan tidak menentu, hanya pada hari-hari besar, seperti lebaran, dan kalau ada keperluan keluarga. Pak Darmono juga memiliki pekerjaan sampingan yaitu sebagai petani di tanah kelahirannya Klaten. Tapi pekerjaan ini dilakukannya hanya pada saat-saat tertentu; saat tenaganya diperlukan oleh keluarganya, dan atau ia ingin melakukannya.</p>
<p>Dalam hal persiapan, menu yang bersifat &#8220;basah&#8221; seperti nasi, sayur, dan makanan pokok lainnya disiapkan / dimasak sendiri oleh keluarganya, sedangkan untuk menu yang bersifat &#8220;kering&#8221; seperti kerupuk, roti, kue-kuean, dan kacang, merupakan titipan orang, dan ada juga yang dibeli di pasar.</p>
<p>Angkringan Pak Darmono unik sebab cara penyajian nasi sayurnya tidak dengan bungkusan-seperti angkringan pada umumnya tetapi dengan piring, dan nasinya akan tetap panas karena disimpan dalam termos nasi. Harganya juga berbeda yaitu Rp. 1500/piring.</p>
<p>Langganan tetap Pak Darmono di angkringan adalah para sopir taksi, tukang becak, karyawan kantor yang buka sore, beberapa pedagang klithikan, dan warga sekitar. Sedangkan langganan tidak tetapnya -tapi cukup banyak, yaitu para pejalan pedestrian yang lewat di sana.</p>
<p>Status gerobak yang dipakai oleh Pak Darmono adalah milik sendiri, dan semuanya berjumlah dua buah. Gerobak yang satunya &#8220;mangkal&#8221; di depan pasar Kranggan, dan bersifat permanen, karena diparkir di sana saat dagangannya tutup. Sedangkan gerobak Pak Darmono yang berada di jalan Mangkubumi bersifat tidak permanen karena pada saat dagangannya tutup akan di parkir di bekas kantor Departemen Tenaga Kerja yang secara fisik bangunannya sudah rusak. Walaupun begitu, orang lain (sesama pedagang), tidak akan merebut lokasi yang sudah ditempatinya, karena lokasi tersebut sudah menjadi &#8220;milik&#8221; pak Darmono menurut kesepakatan mereka, sesama pedagang.</p>
<p>Pak Darmono sendiri memiliki pengalaman kerja sebagai petani di Klaten sejak usianya masih kecil, karena memang kedua orang tuanya adalah petani. Bahkan sampai saat ini Pak Darmono masih menjadikannya sebagai pekerjaan sampingan, saat tenaganya dibutuhkan, dan atau saat ia ingin melakukannya. Pada saat ia pergi bertani, maka yang akan menjaga angkringan adalah Bu De-nya, juga oleh istrinya dan Mas Paimin keponakannya.</p>
<p>Riwayat usaha angkringan pak Darmono dimulai ketika ia diajak oleh temannya pada tahun 1980-an. Mereka lalu bersama-sama menjual makanan angkringan di Semarang; sampai pada akhirnya pada tahun 1988 usaha angkringan Pak Darmono tersebut pindah ke Yogyakarta sampai sekarang yang berada di jalan Pangeran Mangkubumi.</p>
<p>(Sumber: diedit dan disempurnakan dari catatan lapangan Maximillian / 9328 TA, tahun 2003)</p>
<p>Pada waktu catatan ini dibuat Maximillian Nalang Firman Demorin adalah mahasiswa Prodi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Sekarang Max sudah lulus. Catatan lapangan ini ditayangkan untuk memperkaya informasi tentang fenomena PKL di Yogyakarta, yang pernah menjadi bahan kajiannya dalam tugas Kerja Praktek Lapangan. Tayangan tulisannya di blog ini merupakan bentuk penghormatan atas jerih-payahnya mengungkapkan fenomena angkringan di Jl. Mangkubumi, Yogyakarta.</p>
<p>Djarot Purbadi</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/penghunikota.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/penghunikota.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/penghunikota.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/penghunikota.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/penghunikota.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/penghunikota.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/penghunikota.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/penghunikota.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/penghunikota.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/penghunikota.wordpress.com/27/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penghunikota.wordpress.com&blog=5088715&post=27&subd=penghunikota&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penghunikota.wordpress.com/2008/12/11/angkringan-pak-darmono-di-jalan-mangkubumi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c9eaa45ba147dc871c0f03f703cd3059?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">djarotpurbadi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pak Purwanto Juragan Lesehan Ayam Goreng</title>
		<link>http://penghunikota.wordpress.com/2008/10/14/pak-purwanto-juragan-lesehan-ayam-goreng/</link>
		<comments>http://penghunikota.wordpress.com/2008/10/14/pak-purwanto-juragan-lesehan-ayam-goreng/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Oct 2008 03:20:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>djarotpurbadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ayam Goreng]]></category>
		<category><![CDATA[Lesehan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penghunikota.wordpress.com/?p=22</guid>
		<description><![CDATA[Informasi tentang Pak Purwanto di temui peneliti di Malioboro yaitu di warung lesehan ayam goreng miliknya bernama (Citra Nikmat) yang terletak di utara pintu Gedung DPRD sisi utara. Dari pegawainya diperoleh informasi bahwa Pak Purwanto mempunyai 4 warung seperti itu yaitu : Lesehan Citra Nikmat (Malioboro, Depan DPRD), Lesehan Wisata Nikmat (Malioboro, Depan Komplek Kepatihan), [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penghunikota.wordpress.com&blog=5088715&post=22&subd=penghunikota&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Informasi tentang Pak Purwanto di temui peneliti di Malioboro yaitu di warung lesehan ayam goreng miliknya bernama (Citra Nikmat) yang terletak di utara pintu Gedung DPRD sisi utara. Dari pegawainya diperoleh informasi bahwa Pak Purwanto mempunyai 4 warung seperti itu yaitu : Lesehan Citra Nikmat (Malioboro, Depan DPRD), Lesehan Wisata Nikmat (Malioboro, Depan Komplek Kepatihan), Warung Makan Jaya Nikmat (Gejayan, dekat Hotel Radison), dan Warung Makan Jaya Nikmat (Jl. Kaliurang dekat Farmasi). Dia juga menceriterakan bahwa dulu sampai sekarang (sudah cukup lama) Pak Purwanto menjalankan bisnis pemborongan bangunan selain membuka warung.</p>
<p>Riwayat mengenai warung ceriteranya panjang. Pertama buka adalah Lesehan Citra Nikmat yang di depan DPRD, kemudian buka kedua Lesehan Wisata Nikmat yang terletak di depan kompleks Kepatihan, ketiga dibuka yang di UGM (Jaya Nikmat) dan keempat warung yang ada di Gejayan (Jaya Nikmat).</p>
<p>Menurut pengakuan salah satu pegawai, anak buah Pak Purwanto yang bekerja untuk warung makan berasal dari orang-orang sekampung (desa) karena dapat dipercaya. Warung lesehan ayam goreng rata-rata buka pukul 16 s.d. 24.00, dan pada saat tutup tempat ditinggalkan harus dalam keadaan bersih. Pak Purwanto berasal dari Wonosari. Warung lesehan merupakan pekerjaan pokok bagi Pak Purwanto, ia dikatakan “ngongso” oleh keponakannya yang membantunya di Malioboro (pelayan laki-laki yang diwawancara adalah keponakannya)</p>
<p>Lesehan ayam goreng Wisata Nikmat yang ada di depan kompleks Kepatihan dijaga oleh keponakannya, sedangkan yang di tempat lain dijaga oleh anak buahnya yang dapat dipercaya. Menurut keterangan pegawainya itu, pedagang bakso di sebelah selatan warung lesehan Citra Nikmat ini adalah keponakan Pak Purwanto. Jadi tampak ada faktor kekerabatan yang cukup menarik di Malioboro. Pada saat wawancara dilakukan terlihat ada keakraban antara pegawai warung lesehan dengan petugas parkir yang duduk di kursi di warung lesehan itu, juga ada “gangguan” pengamen yang diberi uang receh Rp.500 cemberut.</p>
<p>Menurut pengakuan Pak Purwanto, Warung lesehan ayam goreng miliknya dianggap sebagai pekerjaan istrinya, sedangkan pekerjaan pokok dirinya adalah pemborong. Sekarang istrinya sedang hamil jadi dia di rumah dan tidak dapat aktif di warung. Oleh karenanya, Pak Purwanto sangat aktif bekerja ya mborong ya marung.</p>
<p>Dia berceritera bahwa baru saja selesai mengikuti pertemuan dengan lurah, camat dan walikota berkaitan dengan penataan kota Yogyakarta tahun 2004-2005. Menurut pengakuannya, ia adalah ketua PPLM (Paguyuban Pedagang Lesehan Malioboro). Dalam catatannya ada sekitar 43 pedagang lesehan terdaftar sebagai anggota namun tidak semuanya aktif. Ia juga berceritera bahwa akan ada lomba desa tiap kecamatan tetapi instruksinya lewat kecamatan (Gondomanan), khususnya menilai dalam masalah administrasi – sumberdaya – pembukuan. Dia juga berceritera ikut ngurusi paguyuban pedagang kaki lima di UGM khusus lesehan, yang sedang ada masalah karena tidak ijin rektor UGM. Paguyuban disana mengadakan kerja bhakti kebersihan Minggu pagi di lokasinya sendiri-sendiri.</p>
<p>Dalam paguyuban ada aturan-aturan yang harus ditaati anggotanya, ada juga tarikan uang kesejahteraan 50 ribu per-kepala, tidak boleh jualan 24 jam, ada AD-ART yang disusun oleh Paguyuban Pedagang Kali Lima Jalan Kaliurang. Dia juga mengurusi kelompok pedagang kaki lima di Gejayan, katanya mau tidak mau di setiap tempat ada paguyuban. Pak Purwanto mengaku juga punya warung makan lesehan di Pakualaman di depan Primagama dan di depan LPK (dua tempat).</p>
<p>Menurut penuturannya, pelanggar peraturan dapat menimbulkan sanksi “digaruk” sesuai kesepakatan. Pak Purwanto mengaku aktif sekali dalam organisasi PPLM sebagai ketua dan aktif berhubungan dengan pejabat-pejabat pemerintahan kota. Dia juga menjadi pemborong freelance untuk membangun pekerjaan pembuatan rumah secara privat dengan aturan yang tidak terlalu ketat, atas dasar kepercayaan. Sejak tahun 1983 telah aktif di Malioboro di A.Yani, dia juga mendata pedagang di setiap waktu, ada masalah dia selalu terlibat dan dilibatkan menangani karena memang orang lapangan.</p>
<p>Pak Purwanto tinggal di kampung Macanan, jumlah tenaga kerjanya 18 orang untuk warung lesehan. Tenaga untuk pemborongan terdiri atas tenaga muda – muda dibawah 45 tahun dan sudah berpengalaman, hanya rumah elit-elit yang dibangunnya. Ia juga mengontrak truk untuk mendukung pekerjaan pemborongan. Menurut pengakuannya, dari 6 warung yang dimiliki, hanya 5 yang aktif dan satu tidak aktif yaitu yang di depan Samijaya.</p>
<p>Katanya, waktunya habis untuk ngurusi warung dan tetek-bengeknya. Ia bekerja mulai pukul 05.30 pagi melakukan persiapan (siap-siap) dan pulang malam, jadwalnya sudah rutin. Konon bisa mandiri karena diberi pinjaman modal oleh seseorang karena dia sudah punya modal tempat. Keuntungan dibagi dengan pemilik modal berdasarkan pembagian saham. Teman yang meminjami modal itu adalah teman se-desa, teman SMP yang senang mengembara. Istri Pak Purwanto berasal dari Imogiri.</p>
<p>Mengenai tenaga kerja atau pegawainya, Pak Purwanto berceritera bahwa “tenaga sudah mengakar”, katanya :“kakange melu kulo kalih adine – adine, kakange dikawinkan ganti adine”. Tenaga kerja “orang sini ora gelem”. Pegawainya ada 18 terdiri atas laki-laki 12 orang perempuan 4 orang dan satu pembantu rumah tangga. Pegawainya berasal dari tetangga yang kurang diperhatikan keluarga dan diberi pekerjaan olehnya, ada juga saudara-saudara sendiri, jadi sifatnya kekeluargaan.</p>
<p>Pada waktu terjadi OPK dia tahu kejadian itu yaitu sekitar 20 tahun yang lalu. Dia juga terlibat dalam diskusi-diskusi dengan walikota berkaitan dengan penertiban minuman keras. Katanya, kalau pengecer dapat ditanggulangi tetapi bossnya tidak ditangani jadi ya tidak selesai masalahnya, sekarang banyak penganggur tetapi tidak mau kerja keras.</p>
<p>Tentang komunitas penjual bakso di depan gedung DPRD, katanya :”itu pendirinya saya – perintisnya saya, dari sini sampai Garuda itu biso nyothot bakso itu ikut saya. Tahun 1997 baru ada 8 gerobak bakso di Malioboro, sekarang sudah banyak”. Ada peralihan kegiatan terjadi pada Pak Purwanto : dia mula-mula jualan bakso terus ke warung lesehan. Dia punya pengalaman ngurusi organisasi PKL sesuai dengan keikutsertaannya. Jadi dia termasuk penghuni Malioboro generasi lama. Lesehan di barat jalan setelah reformasi tidak laku karena gerobak PKL tidak disingkirkan.</p>
<p>Menurut Pak Purwanto, dia juga merintis diadakannya daftar tarif pada setiap warung lesehan (setelah ada kasus nama jelek), pemasangan tarif harga disetujui anggota, walikota, paguyuban lain di MBR dan paguyuban pengusaha restoran. Soal harga ada kesepakatan. Lesehan yang tanpa daftar tarif adalah pedagang musiman (jadi dia menganggap dirinya pedagang permanen !!). Pada tahun 1984 di Malioboro ramai makanan burung dara sekarang ayam goreng.</p>
<p>Kapling warung lesehan hanya seluas tenda tetapi ada kerjasama dengan parkir apabila diperlukan ruang yang lebih luas sampai menggunakan tempat parkir, ada uang pengganti kalau warung ramai dan intervensi ke ruang parkir. Kegiatan parkir pukul 08.00 s.d. 16.00 dan shif kedua adalah pukul 16.00 s.d. 21.00. Katanya, petugas parkir juga ada ketua regu (ada paguyuban atau pengurus). Soal kehilangan kendaraan sekarang berat dan tarif parkir 500.</p>
<p>Pak Purwanto menikah tahun 1987. Pak purwanto termasuk pedagang tertua di Malioboro, sekarang sebagai ketua PPLM. Dulu tidak boleh berjualan di depan DPR sekarang boleh karena ada kesepakatan jam penggunaan. Itu juga salah satu jasa Pak Purwanto karena, ia melakukan komunikasi dengan pihak-pihak yang terkait, khususnya bicara tentang waktu “manakala kantor aktif manakala tidak dan peluangnya digunakan untuk PKL”.</p>
<p>Dia berganti jualan (bakso – burung dara – ayam) karena menurutnya ia jeli melihat peluang dan orang lain sekarang ini lebih dilihat sebagai tiru-tiru. Ia juga punya usulan yaitu perlu ada rumah yang dapat digunakan untuk menyimpan gerobak supaya jalan setelah malam bersih. Ditarik iuran 50 ribu per-bulan saja oke kok. Ia juga berpikiran bahwa, penataan Malioboro seharus berdasarkan fakta lapangan. Paguyuban juga dilibatkan dalam iuran kecamatan / kelurahan berkaitan dengan lomba dll,</p>
<p>Situasi sekarang dagang warung lesehan sepi (karena pedagangnya banyak tetapi peminat atau pembeli sedikit / tetap). Menurut Pak Purwanto karena pedagangnya semakin banyak dibandingkan dulu (kemungkinan sejak reformasi). Ia juga menuturkan bahwa karyawannya tinggal di rumah, di kontrakkan 2 (dua) rumah satu untuk putra dan satu untuk putri. Dia dan keluarganya juga menyewa satu rumah untuk keluarganya di daerah Macanan itu.</p>
<p>Sumber: catatan wawancara lapangan, Juli 2003</p>
<p>Djarot Purbadi</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/penghunikota.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/penghunikota.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/penghunikota.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/penghunikota.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/penghunikota.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/penghunikota.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/penghunikota.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/penghunikota.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/penghunikota.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/penghunikota.wordpress.com/22/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penghunikota.wordpress.com&blog=5088715&post=22&subd=penghunikota&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penghunikota.wordpress.com/2008/10/14/pak-purwanto-juragan-lesehan-ayam-goreng/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c9eaa45ba147dc871c0f03f703cd3059?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">djarotpurbadi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kang Wiro Penjual Pecel Lele</title>
		<link>http://penghunikota.wordpress.com/2008/10/07/kang-wiro-penjual-pecel-lele/</link>
		<comments>http://penghunikota.wordpress.com/2008/10/07/kang-wiro-penjual-pecel-lele/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Oct 2008 05:31:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>djarotpurbadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan Godean]]></category>
		<category><![CDATA[Pecel Lele]]></category>
		<category><![CDATA[Warung Tenda]]></category>
		<category><![CDATA[Godean]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penghunikota.wordpress.com/?p=16</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Djarot Purbadi, Sudaryono dan Achmad Djunaedi
Warung Pecel Lele yang berdiri di pojok timur suatu bangunan asrama adalah milik Kang Wiro, yang bertubuh sedang dan agak sedikit kurus. Ia berusia sekitar 45 tahun dan mengaku berasal dari Lamongan. Kang Wiro memiliki dua orang anak usia SMP dan SD dari seorang istri yang dari Lamongan juga. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penghunikota.wordpress.com&blog=5088715&post=16&subd=penghunikota&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal">Oleh: Djarot Purbadi, Sudaryono dan Achmad Djunaedi</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Warung Pecel Lele yang berdiri di pojok timur suatu bangunan asrama adalah milik Kang Wiro, yang bertubuh sedang dan agak sedikit kurus. Ia berusia sekitar 45 tahun dan mengaku berasal dari Lamongan. Kang Wiro memiliki dua orang anak usia SMP dan SD dari seorang istri yang dari Lamongan juga. Dapat dikatakan, Kang Wiro ini adalah keluarga Lamongan yang merantau di Jogjakarta. Keluarga Kang Wiro tinggal selama 9 tahun ini dengan cara kontrak rumah pada seorang penduduk lokal (Pak Sarjono) seorang pensiunan tentara.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Keluarga Kang Wiro dan Pak Sarjono sudah bagaikan saudara sendiri, sebab hubungan kontrak yang cukup lama (9 tahun). Anak-anak Kang Wiro dekat dengan keluarga Sarjono, begitu pula sebaliknya. Bahkan Kang Wiro maupun Pak Sarjono seringkali saling bekerjasama menyelesaikan pekerjaan tertentu yang dapat dikerjakan secara bersama-sama.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Warung Pecel Lele Kang Wiro ini menjual aneka menu makanan, antara lain: nasi goreng, pecel lele, dan aneka minuman. Warung kang Wiro menempati pojok sebuah asrama belum ada 3 bulan, tepatnya mulai bulan puasa Oktober 2005, setelah “diusir” dari tempat lama di dekat jalan masuk ke perumahan Nogotirto. Padahal, ia telah menempati tempat lama selama sekitar 9 tahun tanpa putus. Pada saat menempati ruang trotoar disana, ia membayar sewa kepada aparat desa setempat dengan uang sejumlah sekian ratus ribu rupiah untuk satu tahun “kontrak”. Ia juga tahu bahwa tempat yang disewanya adalah trotoar yang berarti ruang untuk umum, namun ia mengandalkan perlindungan dari aparat setempat.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Tempat yang digunakannya saat ini dianggapnya kurang strategis sebab jauh dari keramaian dan jangkauan penduduk yang tinggal di perumahan-perumahan yang ada di Nogotirto. Ia tampaknya sudah mematok, bahwa pelanggannya adalah berasal dari penduduk di perumahan-perumahan. Baginya, tempat yang sekarang kurang membawa keuntungan karena di pinggir. Untuk menempati pojok asrama itu, ia mengaku “mendapat ijin” dari pimpinan asrama secara lisan, sebab sebenarnya depan asrama itu memang harus bersih dari apapun supaya dapat dihormati keberadaannya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Tampaknya dia sangat kecewa dengan “diusir” dari tempat lama yang dinilainya lebih menguntungkan. Waktu itu ia menentukan lokasi melalui cara kolaborasi dengan penguasa formal lokal. Namun, karena kontraknya habis di tempat itu, dan lahan di belakangnya laku terjual serta pemilik baru menginginkan lahan di depannya bersih dari PKL, maka Kang Wiro terpaksa pindah. Kepindahannya di pojok asrama sebenarnya gratis, sebab tidak perlu mengeluarkan sewa namun hanya mengeluarkan sejumlah Rp. 50.000,&#8211; untuk “uang listrik dan air” dari kios sebelah.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Kang Wiro mengaku pernah berada di Jakarta dan menjadi penjual Pecel Lele disana dengan keuntungan yang lumayan. Namun, ia bosan di Jakarta karena terlalu banyak “gangguan” baik dari Trantib maupun para preman. Ia memilih Jogjakarta untuk mendapatkan ketenangan bekerja yang sangat penting bagi seorang wong cilik. Namun, ternyata di Jogja ia juga mendapat gangguan dari preman atau orang iseng yang datang meminta uang. Ia sudah berpengalaman berhadapan dengan orang-orang semacam itu, jadi selalu dapat mengatasinya dengan baik tanpa mengeluarkan uang sesenpun.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Menurut Kang Wiro, penjual pecel lele dimana-mana kebanyakan adalah orang-orang dari Lamongan. Ia menyebutkan bahwa beberapa Warung Pecel Lele di jalan Godean ini dia kenali sebagai orang tetangga desanya di Lamongan. Mereka biasanya datang ke kota-kota besar untuk mengembangkan bisnis pecel lele, kemudian dapat berkembang semakin banyak. Meskipun merantau, mereka tetap merasa ada ikatan batin dengan desa asalnya, melalui gerakan amal.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Jumlah warung Pecel Lele dapat berkembang karena ada alih ketrampilan atas dasar kerukunan sesama daerah asal (sedesa atau se Lamongan). Penjual Pecel Lele baru biasanya magang pada penjual Pecel Lele yang lebih senior. Setelah merasa memiliki kemampuan, maka mereka biasanya memisahkan diri dan mendirikan tenda atau warung sendiri. Meskipun mereka saling kenal dan merasa ada solidaritas sedesa, mereka berusaha secara mandiri membeli lele, tanpa memakai jalur paguyuban formal yang ada. Paguyuban penjual Pecel Lele di jalan Godean memang belum ada, meski pernah ada penjelasan akan diadakannya paguyuban PKL di jalan Godean.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Ia pernah mengikuti pertemuan paguyuban PKL Pecel Lele di Jakarta, tetapi hasilnya tidak ada kemajuan yang berarti bagi usahanya. Di dalam paguyuban itu ada upaya menjalin hubungan erat antar PKL Pecel Lele dengan basis rasa sedesa atau se-lamongan. Hal-hal positif yang pernah dialami antara lain: mengumpulkan uang untuk menolong saudara di desa yang mengalami musibah, kematian, dll. Iuran yang diberikan besarnya tidak ditentukan, hanya berdasarkan asas sukarela dengan kotak amal.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Sebelum menjadi penjual Pecel Lele di jalan Godean, ia pernah merantau di Bengkulu dan Kalimantan. Ia bekerja di kebun kelapa sawit di Bengkulu dan karena bosan kemudian merantau ke Kalimantan sebagai kuli angkut kayu sisa “<em>illegal logging</em>” untuk disetorkan kepada pimpinan perusahaan yang diikutinya. Ia memiliki pengalaman mengangkat kayu-kayu yang terjatuh di jurang atau tempat sulit dan tidak diambil oleh penebang sebelumnya karena kesulitan medan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Ia memilih Jogjakarta sebagai tempat merantau karena ingin bekerja dengan penuh ketenangan yang tidak diperolehnya ketika di Jakarta. Yogyakarta meskipun lebih tenang namun agak sulit mendapatkan uang, sementara di Jakarta mudah mendapatkan uang tetapi hati tidak tenteram. Sebagai wirausahawan ia ingin dapat bekerja dengan baik, dan bersikap baik terhadap semua orang, dan intinya tidak mencari musuh.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Tentang penataan PKL, di Sleman dirasakan belum akan berlaku seketat di kota Yogyakarta. Meskipun demikian, bila hal itu akan diberlakukan maka ia akan mengikuti penataan itu karena sebagai perantau ia cenderung menyesuaikan diri dengan keadaan demi sebuah ketenangan bekerja. Hal ini dapat dipahami, sebab seluruh hidup keluarganya kini sangat tergantung pada pekerjaannya sebagai penjual Pecel Lele.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">(Sumber: catatan wawancara lapangan, Desember 2005)</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal">Ir. Y. Djarot Purbadi, MT, kandidat doktor Arsitektur pada Program Pasca-sarjana Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada</p>
<p class="MsoNormal">Ir. Sudaryono, M.Eng.PhD, asisten profesor pada Jurusan Teknik Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada</p>
<p class="MsoNormal">Ir. Achmad Djunaedi, MUP, Ph.D, profesor pada Jurusan Teknik Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada</p>
<p class="MsoNormal">
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/penghunikota.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/penghunikota.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/penghunikota.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/penghunikota.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/penghunikota.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/penghunikota.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/penghunikota.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/penghunikota.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/penghunikota.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/penghunikota.wordpress.com/16/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penghunikota.wordpress.com&blog=5088715&post=16&subd=penghunikota&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penghunikota.wordpress.com/2008/10/07/kang-wiro-penjual-pecel-lele/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c9eaa45ba147dc871c0f03f703cd3059?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">djarotpurbadi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mas Marwan Penjual Roti Bakar</title>
		<link>http://penghunikota.wordpress.com/2008/10/06/mas-marwan-penjual-roti-bakar/</link>
		<comments>http://penghunikota.wordpress.com/2008/10/06/mas-marwan-penjual-roti-bakar/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Oct 2008 18:18:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>djarotpurbadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan Godean]]></category>
		<category><![CDATA[Roti Bakar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penghunikota.wordpress.com/?p=14</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Djarot Purbadi, Sudaryono dan Achmad Djunaedi
Mas Marwan, lelaki berusia 45 tahun mengaku “orang Baciro” yang pernah merantau di luar Jawa selama tiga tahun setelah lulus dari pendidikan sarjana. Ia adalah seorang sarjana pertanian (lulus tahun 1993) yang beralih profesi menjadi pengusaha roti bakar di jalan Godean setelah merantau di Sulawesi. Laki-laki bertubuh sedang dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penghunikota.wordpress.com&blog=5088715&post=14&subd=penghunikota&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal">Oleh: Djarot Purbadi, Sudaryono dan Achmad Djunaedi</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Mas Marwan, lelaki berusia 45 tahun mengaku “orang Baciro” yang pernah merantau di luar Jawa selama tiga tahun setelah lulus dari pendidikan sarjana. Ia adalah seorang sarjana pertanian (lulus tahun 1993) yang beralih profesi menjadi pengusaha roti bakar di jalan Godean setelah merantau di Sulawesi. Laki-laki bertubuh sedang dan agak gemuk ini selalu berpakaian rapi &#8211; bersih serta selalu mengenakan topi khas Muslim. Ia berpenampilan ramah terhadap siapapun dan murah senyum terutama kepada para langganannya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Ia adalah seorang ayah dari seorang anak lelaki yang duduk di SMP kelas 3 dan seorang putri yang masih di SD kelas 6. Istrinya, Mbak Murni, berusia sekitar 40 tahun selalu mendampinginya dalam mengelola bisnis tetapi hanya bekerja di rumah. Keluarga Mas Marwan telah selama tiga tahun ini tinggal di desa Modinan, selalu mengontrak pada salah satu rumah penduduk Modinan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Sebelum menjadi pengusaha dalam bidang roti bakar yang sudah ditekuninya selama tiga tahun belakangan ini, ia sebenarnya sudah memiliki pekerjaan yang mapan di Sulawesi. Pengalaman di Sulawesi selama tiga tahun adalah bekerja di perusahaan yang membudidayakan ikan laut di tengah laut. Perusahaan ini mengusahakan pembesaran ikan laut dengan cara memeliharanya di dalam jaring di tengah laut. Para pekerjanya bekerja di “kolam tengah laut” yang dibangun khusus untuk tujuan budidaya ikan laut.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Mas Marwan hanya tahan bekerja di perusahaan itu selama tiga tahun, meskipun fasilitas yang ada di sana sudah sangat canggih (ada telpon satelit, TV dsb). Dia tidak tahan dengan alasan “bosen” karena hanya dapat bertemu dengan keluarganya setiap dua minggu sekali. Atas dasar masalah tersebutlah, tahun 2002 ia memutuskan keluar dari perusahaan swasta tersebut dan kembali ke Yogyakarta untuk memulai usaha baru. Ia tidak tinggal di Baciro, melainkan mengontrak di sebuah rumah penduduk wilayah desa Modinan yang digunakannya untuk usaha wiraswasta roti bakar.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Hal yang menarik dari Mas Marwan adalah pedoman “bekerja harus dengan rasa cinta”. Ia mencontohkan, kalau memberi makan udang atau ikan harus dalam keadaan hati senang dan rasa cinta meluap kepada ikan atau udang yang dipeliharanya. Kalau pemberian makan dengan penuh rasa cinta, maka ikan atau udangnya akan makan dengan lahap dan senang hati maka dengan sendirinya akan menjadi cepat besar atau gemuk. Dengan demikian, pekerjaannya yang diandasi rasa cinta itu akan dapat menghasilkan untung yang sesuai dengan harapan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Pada suatu saat, ia sedang cekcok dengan istrinya. Padahal, saat itu ia harus menyelesaikan pekerjaan membuat roti yang harus dijual kepada orang lain. Dalam keadaan hati yang sedang kurang senang ia memaksa diri meneruskan pekerjaan membuat roti bakar dan ternyata hasilnya hampir seluruhnya gagal. Atas dasar pengalaman itu, ia kemudian memiliki pandangan yang mantap, bahwa pada saat bekerja dengan hati yang bersih maka hasil pekerjaannya akan baik.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Mas Marwan bukan sembarang penjual roti bakar, melainkan sosok “pengusaha” roti bakar, sebab ia memiliki 14 gerobak roti bakar yang disewakan kepada orang lain. Peralatan pokok sebuah gerobak roti bakar adalah gerobak, kompor dan wajan. Peralatan lain dilengkapi sendiri oleh penyewa. Dulu Mas Marwan menyewakan gerobak lengkap dengan peralatan pokok dan penunjang (pisau, kursi, tenda, wadah kecil-kecil untuk bahan tambahan roti) ternyata banyak yang hilang, jadi merugi. Sekarang, gerobaknya disewakan dengan peralatan minimal.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Ongkos membuat satu gerobak adalah sebesar Rp. 1.400.000,- dan ongkos sewa gerobak sebesar Rp. 3.000,&#8211; per gerobak per hari. Dengan menyewakan 14 gerobak, Mas Marwan seolah-olah memiliki “anggota” penjual roti bakar sebanyak itu. Uang masuk dari sewa gerobak per-hari adalah sebesar Rp. 42.000,&#8211;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Mas Marwan dapat dikatakan sebagai pengusaha roti bakar karena memproduksi sendiri roti berbentuk balok dengan harga satu blok adalah Rp. 3.000,&#8211; Setiap hari, anggotanya datang kepadanya untuk membeli roti dan membayar sewa gerobak. Mekanisme ini menjadi pola manajemen bisnis roti bakar yang dikelolanya dan telah berjalan selama tiga tahun ini. Harga roti bakar yang telah matang dan diisi coklat atau yang lain, rata-rata sebesar Rp. 5.000,&#8211; Jadi harga sewa gerobak sebenarnya hanyalah sebesar satu balok roti, dan itu kiranya harga yang masih terjangkau para pengecer roti bakar. Anggota kelompok roti bakar Mas Marwan ini tersebar di jalan Godean, jalan Magelang, hingga Monumen Jogja Kembali.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Setiap hari satu gerobak rata-rata dapat menjual 15 balok roti. Dengan demikian, Mas Marwan dapat menjual minimal 210 balok roti bakar untuk 14gerobak dengan harga @ Rp. 3.000,&#8211; Artinya, omset bisnis roti bakar yang dikelola Mas Marwan adalah sekitar Rp. 650.000,&#8211; per hari. Padahal, roti Mas Marwan juga dibeli penjaja roti bakar lain yang “non-anggota” melalui pemasaran “gethok tular”, sehingga banyak juga penjual roti bakar lain yang membeli rotinya. Hal ini berarti bahwa Mas Marwan merupakan salah satu produsen roti bakar yang cukup berpengaruh di kawasan Jogja barat.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Ia juga membuka satu gerobak roti bakar yang dikelolanya sendiri di jalan Godean di depan sebuah kantor. Ia sangat beruntung diijinkan mangkal di tempat itu karena PKL lain yang pernah mengajukan ijin semuanya ditolak oleh pegawai yang tinggal di kantor tersebut. Pertimbangan untuk mengijinkan, menurut Mas Marwan adalah karena ia ramah dan baik terhadap siapapun, berpenampilan bersih dan rapi, dan bisnisnya adalah bisnis yang bersih tanpa meninggalkan kotoran (minyak) atau bau di tempat kerja.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Prosesnya, dia berkeliling mencari tempat, kemudian setelah memperoleh area segera menghubungi pihak yang berdekatan dengan calon tempatnya bekerja. Pihak PKL mengajukan permohonan secara personal dan kebetulan mendapat ijin berjualan, asalkan menjaga kebersihannya. Dari pihak pemberi ijin tidak diminta kompensasi tertentu. Jadi prosesnya, ada dialog antara PKL dengan pihak pemilik lahan di dekatnya. Pertanyaan penting yang diajukan pihak pemilik lahan biasanya adalah : untuk jualan apa ? bisnisnya bersih atau tidak ?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Ketrampilan membuat roti bakar diperoleh dengan cara belajar sendiri. Ia pernah meminta diajari oleh orang Ciamis, tetapi ternyata tidak maju-maju dan ada kesan mereka pelit membagikan ilmunya. Kemudian, dengan tekun ia belajar sendiri dari berbagai sumber, termasuk dari keluarganya sendiri hingga memperoleh ketrampilan seperti yang dikuasainya sampai saat ini. Roti bakar Mas Marwan memang enak, empuk dan bentuknya mirip Roti Bakar Bandung. Kata-kata “Bandung” yang biasa ada di setiap gerobak roti bakar dihilangkan dari gerobak yang dikelolanya sendiri, sementara di gerobak yang lain ada sebagian yang memakainya. Dalam hal ini ia dapat melampiaskan “dendamnya” terhadap orang yang pernah mengajarinya sekaligus dapat “nebeng” tenar dari imaji Roti Bakar Bandung yang terkenal lebih dini.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Gerobak Mas Marwan memang bersih dan ia selalu bekerja dengan sistematis serta rapi. Gerobaknya diterangi satu lampu SL yang sangat terang dan fasilitas listrik diperoleh bukan dari kantor melainkan dari Kios Motor yang ada di dekatnya dengan cara membayar “uang listrik dan air” sebesar Rp. 30.000,&#8211; perbulan. Gerobak Mas Marwan dilengkapi dengan tenda satu set yang digantungkan di tiang bendera di belakangnya dan 6 buah kursi plastik yang dipakai para langganannya ketika menunggu proses pembuatan roti bakar yang lengkap. Gerobak Tendanya buka pukul 17.00 s.d. 23.00, tergantung rotinya habis tetapi tidak pernah lewat pukul 24.00.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Tentang penataan PKL yang berkembang di kota Yogyakarta, Mas Marwan merasa tidak kuatir sebab ijin dari pihak pemilik lahan di belakangnya sudah diberikana meskipun secara lisan. Ia tidak kuatir sebab Pemkab Sleman tampaknya tidak akan meniru begitu saja pola yang dikembangkan Pemkot Yogyakarta. Sebagai “wong cilik” ia hanya berharap dapat memperoleh ketentraman dalam berbisnis dan berbaik sikap dengan semua orang (terutama pemilik lahan di dekatnya). Ia harus berbaik hati dengan pemilik lahan, sebab kemungkinan diusir lebih kecil dibandingkan apabila bisnisnya terletak di depan rumah tinggal atau toko. Sebuah kantor toh lebih aman, katanya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Mas Marwan juga memperhatikan kondisi yang berkembang di sekitarnya. Ia menceriterakan dua kasus, yakni “kasus Kang Abu” penjual sate dan “kasus Kang Wiro” penjual Pecel Lela dari Lamongan. Kasus Kang Abu dan Kang Wiro ada pada deretan gerobaknya, berkaitan dengan penguasa lokal (Dukuh dan Lurah) yang mengkapling trotoar dan kemudian menyewakan kepada para PKL.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Kang Abu diusir oleh pemilik lahan di belakangnya karena dianggap kurang dapat menjaga kebersihan. Bisnis Sate yang dikelolanya memang menyisakan kotoran di pagi hari dan meninggalkan minyak dan abu bekas bakaran sate yang kurang dibersihkan dengan baik. Ketika diusir, Kang Abu meminta pesangon karena merasa sudah membayar “legalitas” untuk berada di tempat itu. Pesangon diberikan setelah terjadi debat panjang. Setelah diselidiki, ternyata Kang Abu tidak mau pindah karena sudah membayar “mel” (uang pelicin) kepada pak Dukuh.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Lain halnya dengan Kang Wiro, yang diusir pindah karena lahan di belakangnya terjual dan pemilik baru mengajukan syarat mau membeli asalkan PKL di depan lahan dibersihkan. Kang Wiro yang sudah sembilan tahun berada disana, harus pindah dengan sangat terpaksa. Padahal dia sudah membayar “sewa trotoar” kepada pihak penguasa lokal (dukuh dan lurah) sekitar ratusan ribu rupiah per tahun. Untungnya, Kang Wiro pindah pada saat habis masa sewanya, jadi kerugiannya tidak terlalu banyak.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Mas Marwan ingin mengatakan bahwa sebenarnya ada hal-hal yang perlu diperhatikan dalam kedua kasus itu, yakni bahwa campur tangan penguasa lokal dalam hal sewa-menyewa trotoar memang terjadi di jalan Godean dan tuntutan PKL tentang uang pesangon sebenarnya tidak pada tempatya sebab mereka hanya orang-orang yang “nunut golek pangan” atau “neneko” (pendatang).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Pengalaman Mas Marwan tentang bisnis perikanan menjadi bagian dari kenangan masa lalunya. Ia menceriterakan peranan “magic” dalam bisnis udang di Jawa Timur. Suatu kali kakaknya yang memiliki tambak udang di Pantura (Jawa Timur) akan memanen benur esok pagi hari. Malam sebelumnya sudah dilihat bahwa jumlah benur per liter cukup banyak dan menarik banyak calon pembeli yang datang dari berbagai tempat serta sudah menginap malam sebelumnya. Ada kejadian yang sangat merugikan, ternyata esok harinya benur-benur di dalam tambaknya lenyap sama sekali, sementara di tambak tetangga yang sore sebelumnya tidak ada isinya justru penuh benur. Akibatnya, para calon pembeli segera mengalihkan perhatian ke tambak tetangga dan membelinya, sementara kakak Mas Marwan harus menanggung kerugian jutaan (sekitar 15 juta Rupiah). Ia menekankan, betapa kotor bisnis udang di Jawa Timur.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Melalui kasus ini, mas Marwan ingin menceriterakan bahwa ada orang-orang tertentu berkedok agama yang menggunakan “magic” untuk mencari keuntungan duniawi dengan cara rekayasa seperti itu. Mereka bukan menetapkan tarif, melainkan meminta sekian persen dari hasil panennya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Mas Marwan juga mengatakan bahwa di jalan Godean belum ada paguyuban PKL, meskipun pernah ada penjelasan di kantor kecamatan Gamping secara khusus yang mengundang para PKL. Ia merasa bahwa penataan seperti di kota Yogyakarta belum akan berlaku di Sleman, meskipun dia juga tetap haru siap menghadapi persoalan itu. Ia dan keluarganya dapat dikatakan masih menjadi “penduduk pendatang” sebab tinggal di Modinan secara kontrak rumah, bukan menjadi penduduk lokal yang memiliki KTP tetap seperti layaknya penduduk lokal.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">(Sumber: catatan wawancara lapangan, Desember 2005)</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal">Ir. Y. Djarot Purbadi, MT, kandidat doktor Arsitektur pada Program Pasca-sarjana Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada</p>
<p class="MsoNormal">Ir. Sudaryono, M.Eng.PhD, asisten profesor pada Jurusan Teknik Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada</p>
<p class="MsoNormal">Ir. Achmad Djunaedi, MUP, Ph.D, profesor pada Jurusan Teknik Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada</p>
<p class="MsoNormal">
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/penghunikota.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/penghunikota.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/penghunikota.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/penghunikota.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/penghunikota.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/penghunikota.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/penghunikota.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/penghunikota.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/penghunikota.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/penghunikota.wordpress.com/14/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penghunikota.wordpress.com&blog=5088715&post=14&subd=penghunikota&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penghunikota.wordpress.com/2008/10/06/mas-marwan-penjual-roti-bakar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c9eaa45ba147dc871c0f03f703cd3059?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">djarotpurbadi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pak Sutarman Penjual Susu Segar</title>
		<link>http://penghunikota.wordpress.com/2008/10/06/pak-sutarman-penjual-susu-segar/</link>
		<comments>http://penghunikota.wordpress.com/2008/10/06/pak-sutarman-penjual-susu-segar/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Oct 2008 18:04:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>djarotpurbadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan Godean]]></category>
		<category><![CDATA[Warung Tenda]]></category>
		<category><![CDATA[Susu Segar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penghunikota.wordpress.com/?p=11</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Djarot Purbadi, Sudaryono dan Achmad Djunaedi
Pak Sutarman adalah penjual Susu Segar yang membuka warung tendanya di depan sebuah dealer sepeda motor di jalan Godean. Ia seorang pria dengan tubuh pendek dan gemuk, berusia sekitar 45 tahun dan sudah memiliki satu orang cucu. Anaknya lima orang, tiga perempuan dan dua lelaki. Anaknya yang terkecil masih [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penghunikota.wordpress.com&blog=5088715&post=11&subd=penghunikota&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal">Oleh: Djarot Purbadi, Sudaryono dan Achmad Djunaedi</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Pak Sutarman adalah penjual Susu Segar yang membuka warung tendanya di depan sebuah dealer sepeda motor di jalan Godean. Ia seorang pria dengan tubuh pendek dan gemuk, berusia sekitar 45 tahun dan sudah memiliki satu orang cucu. Anaknya lima orang, tiga perempuan dan dua lelaki. Anaknya yang terkecil masih duduk di TK, sedangkan yang paling tua sudah menikah dan punya satu anak (cucu Pak Sutarman). Ia mengaku berasal dari Boyolali namun sudah sejak kecil (usia 12 tahun) tinggal di kampung Pingit hingga sekarang ini. Pak Sutarman orangnya sangat ramah dalam melayani pelanggan namun tegas dan pemberani ketika harus menghadapi preman atau orang mabuk yang pernah mengganggunya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Ia mengaku mendapat ijin yang sangat positif dari pemilik toko sebab mereka merasa saling membutuhkan. Berbeda dengan PKL lain, Pak Sutarman mendapat ijin dan memperoleh listrik serta air secara gratis. Hal ini karena pemilik toko merasa ada hubungan timbal-balik yang saling menguntukkan pada kedua belah pihak, pemilik toko menginginkan tokonya aman dan bersih sepanjang malam, sementara Pak Sutarman memerlukan ruang kerja. Dalam hal ini terjadi kehidupan yang bersifat simbiosis mutualisme, yang saling menguntungkan di kedua belah pihak.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Pak Sutarman mengaku sudah selama tiga tahun berada di depan toko dealer sepeda motor ini, dan diberi keleluasaan untuk menggunakan ruang di depan toko sebagai ruang lesehan apabila diperlukan. Sebelumnya, Pak Sutarman membuka warung Susu Segarnya di depan Toko Besi, yang sekarang sudah berubah menjadi Apotik Diana. Perubahan dari Toko Besi ke Apotik karena kepemilikannya berubah menyebabkan dia harus bergeser ke tempat di dekatnya. Apalagi Apotik Diana buka selama 24 jam, maka hal ini sangat tidak mungkin untuknya memanfaatkan ruang di depan Apotik.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Meskipun demikian, para pengunjung maupun pegawai Apotik menjalin hubungan akrab dengannya, menjadi pelanggan yang hampir rutin menikmati susu segar di warungnya. Petugas parkir Apotik bahkan makan di warungnya, dan memasak sendiri mie rebus yang akan disantapnya. Hubungan Pak Sutarman dengan pemilik lahan di dekatnya dapat berjalan dengan baik dan mendatangkan keuntungan bagi keduanya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Ketika mangkal di depan toko besi, langganannya adalah anak-anak STPDN yang tinggal di asrama atau kampung sekitar. Tetapi karena ada perubahan pengelolaan asrama, mahasiswa dilarang makan di luar asrama dan pintu asrama ditutup pukul 20.30, maka ia kehilangan banyak langganan. Dulu setiap hari Pak Sutarman dapat menjual susu segar sebanyak 25 liter (atau 75 gelas), dengan ditutupnya asrama lebih dini ia hanya mampu menjual 15 liter (atau 45 gelas) per hari. Jadi pengaruh kebijakan asrama cukup signifikan bagi bisnisnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Sebelum menjual Susu Segar di jalan Godean, ia punya pengalaman membuka warung yang sama di kawasan Shantikara. Namun usahanya itu tutup karena peralatannya (bangku, tenda, gerobak, dll) disita pihak Trantib ketika ia sedang pulang menjenguk desanya. Peralatan itu hingga saat ini sudah hilang. Kemudian ia pindah ke dekat Monjali dan dapat berkembang. Namun, karena kakaknya membutuhkan pekerjaan tetap, maka ia merelakan Warung di dekat Monjali itu untuk dikelola kakaknya. Pak Sutarman memilih membuka warung baru di jalan Godean, di depan toko besi.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Susu yang dijual Pak Sutarman bukan dari Boyolali melainkan dari peternak sapi di kawasan Kaliurang karena lebih murah dan kualitasnya sama. Warungnya masih memakai sebutan “Susu Segar Boyolali” sebab nebeng terkenal, meskipun ia selalu jujur mengatakan bahwa susunya hanya dari Kaliurang. Selain itu, Pak Sutarman memang berasal dari Boyolali yang sudah lama tinggal di Pingit.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Menurut Pak Sutarman, penjual susu segar di Yogyakarta umumnya berasal dari Solo dan Sukoharjo. Cara perkembangan penjual Susu Segar melalui jalur kekerabatan atau solidaritas daerah asal atau melalui pertemanan. Pak Sutarman punya pengalaman membimbing adiknya untuk membuka usaha Warung Susu Segar di dekat Monuman Jogja Kembali dengan cara memberikan peralatan dan bimbingan lapangan selama seminggu. Setelah usaha itu dapat berjalan dengan baik, Pak Sutarman melepaskan bimbingannya namun sesekali masih menanyakan seandainya ada kesulitan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Ia juga pernah membimbing temannya, yang berstatus mahasiswa sebuah PT di Yogyakarta, untuk membuka usaha Susu Segar di kawasan Muja-muju. Pak Sutarman mau membimbing teman tersebut karena sudah sangat akrab bagaikan saudara. Ia membelikan peralatan, membimbing praktek lapangan dan membantu proses terbangunnnya relasi penjual baru dengan lingkungan bisnisnya. Setelah berjalan dengan baik, Pak Sutarman melepaskannya dan sesekali memantau perkembangannya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Kini ada perkembangan baru, sebab muncul generasi baru penjual Susu Segar yang berasal dari kalangan “orang Wonosari” melalui proses magang. Tentang Magang, Pak Sutarman merasa bangga kalau bekas anak buahnya dapat berhasil mandiri sebagai penjual susu segar. Ia tidak kuatir dengan adanya persaingan, sebab lokasi baru bagi penjual baru tentulah dipertimbangkan terhadap area pemasaran yang sudah ada dan selalu ada dialog dengan para penjual susu yang lain.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">“Orang Wonosari” tersebut sebelumnya magang di warung Susu Segar yang dimiliki kakak dari pak Sutarman yang terletak di jalan Wates. Setelah merasa mampu, ia melepaskan diri dengan baik-baik dan membeli peralatan warung susu segar yang dimiliki seorang dari Sukoharjo. Sekarang, penjual baru ini dapat menjalankan bisnisnya di sebelah utara Jati Kencana.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Pak Sutarman pernah mengkuti rapat di kecamatan Gamping tentang penyuluhan PKL. Dalam rapat itu dibicarakan bagaimana menjadi PKL yang baik, antara lain harus memiliki “daftar menu dan harga”, tempat harus bersih kalau kegiatan tutup dan peralatandi bawah pergi dari lokasi, dan membayar retribusi.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Menurut Pak Sutarman, menjadi PKL adalah profesinya sebab hanya itu yang dapat dia andalkan. Ia menginginkan anak-anaknya dapat bekerja dengan baik dan tidak usah menjadi PKL seperti dirinya karena kehidupan jalanan itu keras. Kekerasan di jalanan, khususnya yang dialami PKL, umumnya datang secara tidak terduga dan dari orang-orang yang ingin memeras atau minta uang. Ia pernah mau “dikompas” oleh seorang pemabuk, atau mendapat ancaman pedang dari preman, baik yang sekedar lewat ataupun yang memang punya wilayah kerja di Yogyakarta.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Ia sangat beruntung ketika mendapat ancaman-ancaman karena dibantu para pemuda desa sekitar tempatnya bekerja karena mereka sudah akrab dengan Pak Sutarman akibat dari seringnya warungnya menjadi tempat mangkal para pemuda. Hal ini tentu salah satunya karena warung Pak Sutarman selalu buka sejak pukul 17.00 hingga menjelang pagi hari (pukul 03.00), dan sering karena susu yang dimiliki hati itu harus terjual semuanya hari itu juga. Kalau sisa dua atau tiga gelas dibawa pulang dan selalu diberikan pada tetangganya yang memerlukan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">(Sumber: catatan wawancara lapangan, Desember 2005)</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal">Ir. Y. Djarot Purbadi, MT, kandidat doktor Arsitektur pada Program Pasca-sarjana Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada</p>
<p class="MsoNormal">Ir. Sudaryono, M.Eng.PhD, asisten profesor pada Jurusan Teknik Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada</p>
<p class="MsoNormal">Ir. Achmad Djunaedi, MUP, Ph.D, profesor pada Jurusan Teknik Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada</p>
<p class="MsoNormal">
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/penghunikota.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/penghunikota.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/penghunikota.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/penghunikota.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/penghunikota.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/penghunikota.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/penghunikota.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/penghunikota.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/penghunikota.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/penghunikota.wordpress.com/11/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penghunikota.wordpress.com&blog=5088715&post=11&subd=penghunikota&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penghunikota.wordpress.com/2008/10/06/pak-sutarman-penjual-susu-segar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c9eaa45ba147dc871c0f03f703cd3059?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">djarotpurbadi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kang Parman Penjual Mie Jawa</title>
		<link>http://penghunikota.wordpress.com/2008/10/06/kang-parjono-penjual-mie-jawa/</link>
		<comments>http://penghunikota.wordpress.com/2008/10/06/kang-parjono-penjual-mie-jawa/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Oct 2008 17:23:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>djarotpurbadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan Godean]]></category>
		<category><![CDATA[Mie Jawa]]></category>
		<category><![CDATA[Warung Tenda]]></category>
		<category><![CDATA[Wonosari]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penghunikota.wordpress.com/?p=6</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Djarot Purbadi, Sudaryono dan Achmad Djunaedi
Kang Parman adalah penjual “Mie Jawa” mengaku berasal dari desa Piyaman, Wonosari. Ia berusia 45 tahun dan memiliki dua orang anak, perempuan usia 18 tahun (SMA kelas 3) dan laki-laki usia 15 tahun (SMP kelas 3) dari istrinya yang bernama Yu Tuminah (40 tahun). Suami – istri yang menikah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penghunikota.wordpress.com&blog=5088715&post=6&subd=penghunikota&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal">Oleh: Djarot Purbadi, Sudaryono dan Achmad Djunaedi</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Kang Parman adalah penjual “Mie Jawa” mengaku berasal dari desa Piyaman, Wonosari. Ia berusia 45 tahun dan memiliki dua orang anak, perempuan usia 18 tahun (SMA kelas 3) dan laki-laki usia 15 tahun (SMP kelas 3) dari istrinya yang bernama Yu Tuminah (40 tahun). Suami – istri yang menikah tahun 1986 ini mengaku sama-sama berasal dari Wonosari.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Keberadaannya di jalan Godean di mulai sekitar tahun 1997, yakni mangkal di depan bangunan yang sekarang adalah sebuah Apotik KIFA. Sebelumnya, ia membuka usaha Mie Jawa bersama dengan kakaknya dan ruang usahanya itu ada di sebelah barat Mirota Kampus jalan C. Simanjuntak. Warung tenda di Mirota itu ada di trotoar sisi barat, menempel di luar pagar bangunan Madrasah.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Ia pindah ke jalan Godean awalnya karena orang tua istrinya memiliki tanah di Modinan yang dibelinya. Ia dan keluarganya diminta menemani ibu istrinya yang sudah berusia tua dan tinggal sendirian disana. Permintaan itu dipenuhinya karena dapat bermanfaat bagi keluarganya dan pengembangan usahanya sebagai penjual Mie Jawa. Bahkan secara formal, Kang Parman dan istrinya sudah menjadi penduduk desa Modinan, bukan penduduk pendatang lagi yang harus memiliki KIPEM (kartu penduduk musiman) karena sudah memiliki KTP Modinan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Sejak tahun 1988 ia memindahkan warung tenda Mie Jawa miliknya itu dari depan Apotik KIFA ke tempat yang sekarang digunakannya, yakni di depan SD Nogosari. Prosesnya, sangatlah sederhana. Pada suatu saat ia di datangi oleh seseorang yang belum dikenalnya dan memintanya untuk membuka usaha warung bakminya itu berada di depan SD Nogosari. Katanya: “Pindahlah di sana, nanti kalau tidak boleh disana, beritahukan kepada saya”. Syarat yang diajukan adalah agar Kang Parman dapat tertib dan bersih, kalau pagi hari tempat itu tidak digunakan untuk menyimpan peralatan warungnya. Kang Parman setuju dan pindah di tempat yang dimaksudkan. Ternyata, orang yang mendatanginya itu adalah kepala sekolah SD tersebut, yang mengaku juga berasal dari Wonosari.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Dengan kepindahannya di depan SD Nogosari itu, Kang Parman menjalin hubungan kerjasama lebih lanjut, yakni mendapat fasilitas listrik dan air yang diperoleh dari pihak SD Nogosari dan ia dibebani dana sebesar Rp. 5.000,- per bulan untuk membayar fasilitas itu. Dengan meninggalnya kepala sekolah yang berasal dari Wonosari itu, kini beban beaya fasilitas berubah menjadi Rp. 30.000,&#8211; sejak Januari tahun 2004 yang lalu. Menurut Kang Parman, naiknya “tarikan” dari SD Nogosari ini karena Kepala sekolah yang baru bukan berasal dari Wonosari, dan alasan besaran tarip ditetapkan oleh BP3 SD Nogosari.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Meskipun demikian, Kang Parman merasa tidak terlalu berat, karena kalau dihitung sehari hanya sekitar Rp. 1.000,&#8211; Selain itu, dia merasa bahwa keberadaannya di depan SD itu sangat direstui oleh pihak SD, baik Kepala Sekola maupun BP3, dengan membayar beban sebesar Rp. 30.000,&#8211; per bulan itu. Semula pihak BP3 menetapkan harga Rp. 50.000,- per bulan, tetapi Kang Parman mengajukan keberatan dan disetujui menjadi tarip yang sekarang. Ia juga mengaku, mendapat fasilitas untuk menyimpan gerobak dan tendanya di halaman belakang SD yang tempatnya luas serta ditata bagus. Ia bahkan mendapat kunci halaman SD, yang dapat digunakannya untuk memperlancar pendirian dan penyimpanan peralatan warungnya di SD itu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Selain membayar “uang listrik dan air” kepada pihak SD, Kang Parman juga kadang-kadang (sebulan sekali, tidak tentu) memberikan minuman ataupun makanan (sesuai menu yang ada di warungnya) kepada dua atau tiga orang guru SD yang mengadakan kegiatan lembur di malam hari. Tambahan ini dilihatnya sebagai bagian dari kegiatan menjalin hubungan baik antara dirinya dengan kalangan para guru SD tersebut. Minuman dan makanan itu biasanya gratis (tidak mendapat bayaran).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Keberadaan Kang Parman di depan SD ternyata dirasakan positif oleh pihak sekolah, khususnya pada aspek keamanan. Sebelum warung Mie Jawa milik Kang Parman ada di depan SD, beberapa kali terjadi pencurian barang di SD tersebut. Setelah Kang Parman di depan SD itu sejak tahun 1998, ternyata kejadian semacam itu hampir dikatakan tidak ada lagi. Bahkan Kang Parman dan istrinya kadang ikut mengamankan barang-barang milik SD yang tertinggal di luar ruangan karena kelalaian penyimpanan, misalnya: seperangkat peralatan soundsystem yang pernah tertinggal di luar ruang kelas.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Kerjasama Kang Parman dengan penjaga sekolah juga terjalin dengan baik. Penjaga sekolah dapat datang lebih malam (menjelang pukul 24.00) karena seolah-olah SD sudah ditunggui sejak pukul 16.00 sore. Kang Parman biasa mempersiapkan pembukaan warungnya sejak pukul 16.00, yang menghabiskan waktu sekitar satu jam untuk sampai dapat melayani pembeli pertama. Selain itu, kadang kala penjaga SD datang lebih awal dan ngobrol atau makan di warungnya lebih dahulu sebelum menjalankan tugasnya menjaga SD mulai pukul 24.00 hingga dini hari pukul 05.00.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Kang Parman tumbuh menjadi penjual Mie Jawa karena memiliki perjalanan yang panjang. Ia lahir dari keluarga penjual Mie Jawa khas Wonosari. Ayahnya, Pak Jomarto, adalah penjual Mie Jawa generasi awal kota Yogyakarta yang membuka warung Bakmi di kawasan Sosrowijayan. Ayahnya sudah lama meninggal dunia. Sejak kecil Kang Parman sudah hidup di dalam kultur pedagang Mie Jawa, sehingga ia dan kakak serta adik-adiknya kebanyakan juga menjual Mie Jawa. Sebelum menjual Mie Jawa di Mirota Kampus, Kang Parjo adalah penjual “nasi Padang” dengan cara kursus privat pada seorang yang mampu memasak masakan Padang. Akhirnya, ternyata kecenderungan keluarga-lah yang menjadi pilihannya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Kakaknya hingga sekarang masih aktif menjual Mie Jawa di warung lama yang ada di barat Mirota Kampus, dan sudah memiliki tanah dan rumah di kawasan Terban. Adiknya yang bernama Maryatiati juga membuka warung Mie di Pojok Lapangan Olah Raga Nogosari serta di tepi jalan Godean sisi selatan, warung tendanya bernama Yu Maryati dan berada di dekat jalan masuk ke perumahan Griya Arga Permai. Adiknya yang bersuami “orang Wonosari” sudah beberapa tahun tinggal di desa Nogosari karena memiliki tanah disana, dan mereka sudah menjadi penduduk Nogosari sambil meneruskan usaha wiraswasta warung klontong dan warung Mie Jawa.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Keberadaan warungnya di depan SD Nogosari secara otomatis selalu terkait dengan keramaian situs Mbah Demang yang diperingati setiap bulan Muharram (Sura). Pada saat keramaian sebulan suntuk di sekitar situs itu, ada dua pihak yang berkepentingan mengelola keramaian, yakni desa Guyangan dan desa Modinan. Kedua desa ini selalu menjadi pihak pengelola keramaian sekitar situs mbah Demang, yang semula melebar ke arah barat sekarang justru melebar ke arah timur (mendekati pasar Telagareja). Pada waktu keramaian itu, Kang Parman juga dibebani dana kebersamaan yang harus dibayarkan ke desa Guyangan dan desa Modinan. Ia merasa hal itu wajar dan besarannya juga tidak memberatkan. Dengan demikian, Kang Parman merasakan adanya pengakuan yang mantap dari lingkungan kedua desa itu terhadap keberadaan warungnya di depan SD Nogosari. Ia mengaku bahwa merasa mantap dan tidak menjadi “pedagang liar” di jalan Godean dengan adanya beban-beban dana tambahan yang harus dibayarnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Bagi Kang Parman dan istrinya (keduanya berpendidikan rendah, lulusan SD), menjadi PKL seperti saat ini merupakan sebuah keterpaksaan. Mereka menyekolahkan anak-anaknya dan berpikir hendaklah anak-anaknya tidak menjadi PKL seperti dirinya melainkan dapat menjadi orang yang bekerja lebih baik kondisinya. Biarlah menjadi PKL seperti ini hanya dirinya saja, anak-anaknya jangan mengikuti jejaknya, demikian katanya. Hal ini terbukti, anak-anaknya diberi kebebasan menjalankan sekolah dan tidak dibebani tugas-tugas di warungnya karena Kang Parman dan istrinya saja yang menyediakan diri untuk “hidup di tepi jalan” sepanjang waktu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Menurut Kang Parman, hidup di tepi jalan harus “dawa ususe, sabar lan narimo”. Kehidupan di pinggir jalan memang keras dan penuh dengan bahaya. Bahaya datang dari kendaraan yang lalu-lalang di dekatnya, tetapi juga dari gangguan orang-orang waras (preman) maupun dari orang-orang gila. Kang Parman pernah didatangi seorang gila yang meminta uang Rp. 5.000,&#8211; tetapi dapat di tolaknya. Hal semacam ini tidak hanya terjadi sekali, melainkan beberapa kali dan selalu dapat diselesaikan dengan baik.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Anaknya yang pertama, perempuan sudah sekolah di SMA kelas III dan sudah setahun ini menjadi penyiar di Radio UII Malioboro. Anaknya ini hanya sekali-kali saja membantu pekerjaan di warungnya, khususnya kalau salah satu dari orang tuanya berhalangan (misalnya karena sakit atau pulang ke desa). Anaknya yang lain, seorang lelaki sedang menempuh pendidikan di SMP kelas III, juga tidak pernah membantu di warungnya. Tampaknya suami – istri Parman sungguh-sungguh ingin keluar dari “penderitaan sebagai PKL” dan tidak ingin anak-anaknya menderita seperti dirinya. Dalam hal ini, pendidikan sekolah dilihatnya sebagai jalan satu-satunya yang dapat mendukung cita-citanya itu. Ia bahkan tidak terlalu tertarik untuk mendidik anaknya menekuni bisnis Mie Jawa, misalnya dengan pola lain: menjadi juragan Mie Jawa.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Kang Parman juga berceritera bahwa akhir-akhir ini ada usaha untuk menghimpun para penjual Mie Jawa asal Wonosari di Yogyakarta ke dalam wadah IKG (Ikatan Keluarga Gunung Kidul) yang konon telah eksis di Jakarta. Menurut pengakuannya, kalau ikut di dalam “koperasi IKG” itu akan mendapat berbagai fasilitas, antara lain adalah pinjaman modal dengan bunga ringan. Ia memang ingin dapat mengikuti koperasi itu karena tertarik pada pinjaman modal, selain dapat berhimpun dengan para wiraswastawan lain yang berasal dari Gunung Kidul. Tampaknya fanatisme atau emosi kedaerahan menjadi salah satu motivasi untuk bergabung di dalamnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Menurut Kang Parman, secara umum koperasi IKG yang kantornya di sebelah utara UNY, setuju dengan peraturan yang diberlakukan di kota Yogyakarta tentang penataan PKL. Ia sebagai PKL cenderung setuju dengan peraturan itu, terutama karena ada anjuran IKG agar setiap PKL dari Gunung Kidul menaati peraturan itu karena merupakan bentuk pengakuan formal pemerintah sekaligus ada harapan mendapat bantuan modal dll. Kang Parman setuju karena sejalan dengan keinginannya untuk mendapatkan ketentraman dalam menjalankan bisnisnya di tepi jalan itu. Dengan mengikuti peraturan itu, ia merasa akan menjadi PKL yang legal (merasa tenteram) dan ada harapan mendapat pertolongan apabila mendapat kesulitan dana atau fasilitas lainnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Ia sedikit bersyukur karena merasa pemerintah kabupaten Sleman belum melakukan penataan PKL seperti di Yogyakarta yang terkesan meresahkan. Kang Parman cukup paham dengan beberapa bagian dari aturan penataan PKL di kota Yogyakarta karena mendapat informasi lewat “gethok tular” diantara sesama PKL. Bahkan sekitar setahun yang lalu pernah ada penjelasan dari pihak Kecamatan Gamping tentang akan diadakannya paguyuban PKL berdasarkan jalan (misalnya: Paguyuban PKL jalan Godean), namun belum sejauh yang dilakukan pemerintah kota Yogyakarta. Sayangnya, usaha menghimpun para PKL itu hingga saat ini belum terjadi, entah karena apa kok macet.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Sebagai orang yang sudah puluhan tahun bekerja di tepi jalan, Kang Parman sangat menyadari kedudukannya sebagai orang yang “nunut” ruang kerja, sehingga tahu diri untuk tidaka meminta uang pesangon bila diusir dari tempat mangkalnya. Hal ini dikatakannya, untuk membandingkan orang dari etnis lain yang minta pesangon dari pihak pemilik lahan di dekatnya karena diusir sebab dianggap kurang memperhatikan kebersihan tempat kerjanya sehingga merepotkan. Ia ingin membandingkan, bahwa sebagai etnis Jawa merasa lebih memiliki nilai etika dibandingkan yang lain.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Tetapi dia kemudian agak ragu dengan pandangannya itu karena tetangga baru di sebelah barat tempatnya adalah pendatang baru dari Wonosari yang berjualan Seafood ternyata “nekad” tanpa ijin dari pemilik lahan langsung mendirikan warung tendanya. Ada kekuatiran, jika ada hal-hal yang buruk dilakukan orang lain akan berdampak pada dirinya yang sudah relatif mapan ditempatnya. Tetangga baru itu potensial memunculkan masalah, sebab sudah ada pihak BP3 yang mempertanyakan kasus nekad itu, dan Kang Parman kuatir apabila kemudian muncul aturan dari BP3 yang melarang PKL menggunakan ruang di depan SD. Tetapi, Kang Parman memang merasa tidak dapat berbuat apa-apa karena merasa enggan berurusan dengan orang nekad.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Tentang bisnis Mie Jawa, ia mengatakan bahwa kuncinya pada pemasaknya atau cara memasaknya. Artinya, sama-sama penjual Mie Jawa (bahkan berasal dari keluarga penjual Mie Jawa yang sama) akan tersaji rasa masakan yang berbeda. Mungkin semua bahannya sama, tetapi biasanya akan muncul rasa Mie Jawa yang khas pada setiap warung Mie Jawa. Jadi, kuncinya bukan pada bahannya melainkan ketrampilan kokinya, dan hal ini membuat adanya segmen langganan tertentu. Bagi Kang Parman, soal rasa khas setiap warung Mie Jawa ini sangat disyukuri dan menjadi hal yang dibanggakan. Karena hal itulah Mie Jawa tidak dapat atau sulit ditiru orang lain.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Bagi Kang Parman, di lingkungan PKL ada dua jenis bisnis berdasarkan cirikhas dagangannya. Ciri ini menjadi faktor penentu perkembangan bisnisnya, khususnya terkait dengan “duplikasi” warung atau gerobak PKL agar menjadi bisnis yang besar. Baginya, bisnis Mie Jawa atau Bakso merupakan bisnis yang hanya dapat dikelola secara terbatas. Ia tidak dapat mempercayakan hitung-hitungan penghasilan warung karena Mie atau Bakso sulit dikontrol berapa jumlah yang laku. Hal ini berbeda dengan bisnis Ayam Goreng Yanto yang dapat berkembang menjadi 4 gerobak ayam hingga saat ini, karena hubungan bisnis antara juragan dengan anak buah dapat mudah dikontrol dari jumlah ayam yang dijualnya (entah dengan satuan Kilogram atau potong ayam). Untuk bisnis Mie atau Bakso cara menghitungnya tidak semudah bisnis ayam goreng itu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Dengan kata lain, di dalam bisnis PKL ada bisnis yang dagangannya “countable” dan yang “uncountable”. Hal ini nampaknya menjadi salah satu faktor penentu perkembangan bisnis PKL. Bagi Kang Parman, kalau bisnis Mie Jawa mau meniru bisnis Ayam Yanto tentu tidak bisa, sebab akan banyak masalah dalam proses hitung-hitungan dagang antara juragan dengan anak buahnya. Jadi, cara yang paling tepat adalah satu koki membuka satu warung Mie Jawa, juga karena kekhasan rasanya muncul dari kokinya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Kang Parman juga berceritera bahwa PKL di jalan Godean ini sebagian adalah para pendatang, kira – kira ada sekitar 50%. Penduduk lokal biasanya kurang berhasil dalam menjalankan bisnis PKL karena umumnya kurang tekun. Barangkali benar kata orang, bahwa pendatang lebih gigih berjuang daripada penduduk lokal karena statusnya sebagai pendatang yang menjadi sumber semangatnya. Sebenarnya orang Jawa sama gigihnya dengan orang dari etnis lain, asalkan sama-sama ada dalam situasi yang sama, sebagai perantau. Demikian juga, orang Jawa atau etnis lain kalau di daerah sendiri kemungkinan besar juga tidak segigih dibandingkan mereka yang di rantau.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Selain itu, menurut Kang Parman, angkringan itu ada dua jenis, yakni dikelola oleh “orang Klaten” dan “orang Wonosari”, dan yang ada di jalan Godean adalah dalam keadaan campur (dalam artian tidak mengelompok seperti di Malioboro sebelum digusur).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">(Sumber: catatan wawancara lapangan, Desember 2005)</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal">Ir. Y. Djarot Purbadi, MT, kandidat doktor Arsitektur pada Program Pasca-sarjana Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada</p>
<p class="MsoNormal">Ir. Sudaryono, M.Eng.PhD, asisten profesor pada Jurusan Teknik Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada</p>
<p class="MsoNormal">Ir. Achmad Djunaedi, MUP, Ph.D, profesor pada Jurusan Teknik Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada</p>
<p class="MsoNormal">
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/penghunikota.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/penghunikota.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/penghunikota.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/penghunikota.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/penghunikota.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/penghunikota.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/penghunikota.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/penghunikota.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/penghunikota.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/penghunikota.wordpress.com/6/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penghunikota.wordpress.com&blog=5088715&post=6&subd=penghunikota&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penghunikota.wordpress.com/2008/10/06/kang-parjono-penjual-mie-jawa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c9eaa45ba147dc871c0f03f703cd3059?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">djarotpurbadi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dokumentasi Penghuni &#8211; penghuni Ruang Kota</title>
		<link>http://penghunikota.wordpress.com/2008/10/06/para-penghuni-ruang-kota/</link>
		<comments>http://penghunikota.wordpress.com/2008/10/06/para-penghuni-ruang-kota/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Oct 2008 16:43:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>djarotpurbadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penghunikota.wordpress.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[Salam Sejahtera,
Blog ini ingin dikembangkan untuk mendalami suatu fokus yaitu para penghuni ruang kota, yang dibatasi pada pendokumentasian fenomena penghuni ruang kota di Yogyakarta. Dalam pandangan kami, persoalan tata ruang kota dapat semakin dicari solusinya dengan jernih jika pihak &#8211; pihak yang berwenang memiliki pemahaman dan simpati yang mendalam kepada para penghuni ruang kota yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penghunikota.wordpress.com&blog=5088715&post=3&subd=penghunikota&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Salam Sejahtera,</p>
<p>Blog ini ingin dikembangkan untuk mendalami suatu fokus yaitu para penghuni ruang kota, yang dibatasi pada pendokumentasian fenomena penghuni ruang kota di Yogyakarta. Dalam pandangan kami, persoalan tata ruang kota dapat semakin dicari solusinya dengan jernih jika pihak &#8211; pihak yang berwenang memiliki pemahaman dan simpati yang mendalam kepada para penghuni ruang kota yang sangat beragam. Pemahaman mendalam dapat menjadi saluran keterlibatan secara pasif dan aktif, sebab pemahaman kondisi nyata di lapangan memang sangat penting untuk dilibatkan di dalam proses pengambilan keputusan dan penentuan kebijakan penataan ruang kota.</p>
<p>Bahan yang ditampilkan dan didokumentasikan dalam blog ini adalah fenomena para penghuni ruang kota dalam kondisi alamiah mereka, sehingga dapat diperoleh pemahaman yang lebih mendalam dan jernih atas keberadaan serta perilaku mereka menghuni ruang kota. Usaha terpenting melalui blog ini adalah mengangkat fenomena keberagaman penghuni ruang kota secara bertahap dan berambisi mampu menampilkan keunikan semua penghuni ruang kota secara utuh dan jernih serta mendalam. Harapannya, pihak-pihak yang terlibat di dalam upaya penataan ruang kota dapat terbantu secara signifikan sejak dalam pikiran, bahkan sejak dari dalam hatinya !</p>
<p>Djarot Purbadi</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/penghunikota.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/penghunikota.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/penghunikota.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/penghunikota.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/penghunikota.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/penghunikota.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/penghunikota.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/penghunikota.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/penghunikota.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/penghunikota.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penghunikota.wordpress.com&blog=5088715&post=3&subd=penghunikota&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penghunikota.wordpress.com/2008/10/06/para-penghuni-ruang-kota/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c9eaa45ba147dc871c0f03f703cd3059?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">djarotpurbadi</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>