Posted by: djarotpurbadi | February 9, 2009

Mas Yanto Juragan Ayam Goreng

Oleh: Djarot Purbadi, Sudaryono dan Achmad Djunaedi

Mas Yanto yang berusia sekitar 35 tahun adalah penduduk desa Modinan. Ia telah beberapa tahun belakangan ini berusaha menjalankan bisnis ayam goreng ala Kentucky. Mas Yanto adalah penduduk asli Modinan yang termasuk maju dan berkembang dalam bisnis di jalur PKL. Selama ini penduduk asli Modinan atau Guyangan jarang yang berhasil dalam mengembangkan bisnis PKL. Dagangan mas Yanto hanya ayam goreng yang diberi tepung, digoreng menjadi ayam goreng ala kentucky, disajikan dengan gerobak PKL yang berkaca.

Ia memulai usaha penjual ayam goreng pada sekitar tahun 2000 dan sampai saat ini berjalan relatif lancar, menguntungkan dan dapat menciptakan lapangan kerja baru. Kini Mas Yanto telah memiliki gerobak sebanyak 4 (empat) buah yang dijalankan oleh orang-orang upahannya. Orang upahannya satu orang berasal dari Magelang (bukan saudara) dan yang tiga lainnya adalah saudaranya. Rumahnya saat ini menjadi tempat memproduksi “Ayam Yanto” karena semua bahan yang dijualnya disiapkan di rumah tersebut. Istrinya membantunya mengelola masakan ayam goreng Yanto ini di rumahnya, tidak dilakukan di tepi jalan. Ayam Yanto disiapkan di rumah dan dijual di tepi jalan Godean.

Ayam Yanto semula berada di selatan Mirota Kampus Godean dengan satu gerobak. Pada tahun 2002 ia dipaksa pindah karena lahan kosong di dekatnya akan dibangun toko. Ayam Yanto ini ketika di selatan Mirota Godean menjadi “idola” banyak orang karena murah dan enak. Pada waktu itu tempatnya sangat stratejik, sehingga orang cepat datang dan cepat pergi, sehingga frekuensi penjualan sangat tinggi. Akibatnya, ia mendapat keuntungan yang sangat memadai. Peristiwa proses pernjualan ayam goreng di tempat itu mirip proses “drive through” yang terjadi di ayam Mac D. Pembeli cepat datang dan segera dilayani lalu cepat-cepat pergi.

Kini Ayam Yanto ada di empat tempat, yakni dua tempat di sepanjang jalan Godean, satu di Pasar Kranggan dan satu lagi di dekat Mirota Kampus jalan C. Simanjuntak. Dari gerobak awal yang sangat menguntungkan ini, Pak Yanto kemudian terusir dari sana dan mencoba menempati area di sebelah barat semula dan di pintu masuk jalan ke Nogotirto. Artinya, ketersingkiran Ayam Yanto bukan dilihat sebagai sebuah petaka melainkan peluang untuk menambah gerobak dan memilih lokasi yang baru. Brand Image “Ayam Yanto” memang sudah terbentuk, minimal bagi orang-orang yang rutin melewati jalan Godean. Bagi Mas Yanto pindah di manapun tidak masalah, asalkan masih di jalan Godean pastilah mudah ditemukan para langganannya. Itulah yang terjadi dengan Ayam Yanto.

Bisnis Mas Yanto ternyata berkembang. Ia mempertahankan bisnis pokok sambil mengembangkan satu gerobak untuk menjual “tahu chicken” atau yang oleh para PKL lain disebut “tahu kentucky”. Ia masih ingin mempertahankan pola bisnis yang jualannya dapat dihitung (countable), sehingga kontrol terhadap anak buahnya dapat dengan mudah dilakukan. Mengingat jauhnya lokasi berjualan dengan “markas” Ayam Yanto yang ada di Modinan, maka ia mewajibkan anak buahnya menyimpan gerobak di dekat tempat mangkalnya. Akibatnya, proses persiapan berjualan dilakukan dengan cara membawa bahan-bahan yang siap masak dari rumahnya ke tempat mangkal gerobak. Bahan ayam dan tahu biasanya dibawa di dalam drum-drum plastik kecil yang mudah dibawa dengan sepeda motor. Ayam Yanto dan tahu Kentucky memang digoreng di pinggir jalan. Kalau pada awalnya, Mas Yanto sendiri terjun di lapangan untuk menjual Ayam Goreng Yanto, sekarang ia justru hanya berkeliling untuk mengontrol para anak buahnya yang menjualkan dagangannya. Kesibukan ini menjadi hal yang rutin terjadi setiap sore hingga malam hari dan merupakan konskuensi dari bisnisnya yang terus berkembang. Mas Yanto sekarang ternyata sudah menjadi juragan ayam goreng kentucky, meski masih juragan kecil.

(Sumber: catatan wawancara lapangan, Desember 2005)

————————

Ir. Y. Djarot Purbadi, MT, kandidat doktor Arsitektur pada Program Pasca-sarjana Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada

Ir. Sudaryono, M.Eng.PhD, asisten profesor pada Jurusan Teknik Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada

Ir. Achmad Djunaedi, MUP, Ph.D, profesor pada Jurusan Teknik Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada


Responses

  1. Kalau bisa disertakan resep “tahu kentaki”-nya pak Yanto, pasti artikel ini akan banyak pengunjungnya pak. Artikelnya bagus, menumbuhkan jiwa wiraswasta. Trims

  2. Sahabat, wah belum kepikiran ke arah itu, sebab kayaknya ada semacam “rahasia dapur” dalam kasus ini. Mungkin benar, namanya sama tetapi rasanya beda karena resepnya juga tidak sama. Belajar dari Bakmi Jowo khas GK, resepnya sama tetapi kokinya beda ternyata juga bisa berbeda. Pada fenomena Ayam Yanto dan Tahu Kentaki Yanto ini yang saya lihat dia pandai memilih lokasi yang tepat, yaitu di jalur lalu-lintas yang ramai tetapi masih cukup nyaman untuk membeli ayam goreng sambil setengah tergesa-gesa dan tidak mengganggu lalu-lintas. Dia ada di sisi kiri jalan Godean dilihat dari arah timur (Tugu). Jadi, pelanggannya adalah orang-orang yang pulang kerja, bukan berangkat kerja. Saya kira, selain itu harganya juga rada miring dan enak, meskipun ada yang bilang sama dengan ayam goreng atau tahu kentaki jalanan yang lain. Tampaknya resep dan beberapa faktor yang lain sangat menentukan ya, misalnya tempat, timing, rutinitas dan kuantitas arus pembeli, dan cara layanan, dsb.

    Salam,
    Djarot


Leave a response

Your response:

Categories