Posted by: djarotpurbadi | December 11, 2008

Angkringan Pak Suyanto

Pak Suyanto, biasa dipanggil Pak Yanto, beragama Kristen, tepatnya Kristen Pentakosta, dan bertempat lahir di Yogyakarta pada tangga] 31 Desember 1948. Artinya, pada akhir tahun 2003 ini Pak Suyanto genap berusia 55 tahun. Status Pak Yanto adalah sudah menikah dengan Bu Lastri yang lahir pada tahun 1954 dan sekarang berusia 49 tahun.Dari pernikahan ini, mereka telah dikarunia empat orang anak, yang paling tua berusia 31 tahun dengan pendidikan terakhir SMEA; yang kedua sudah tamat SMA 17 Gowongan Bumijo; yang ketiga masih sekolah di SMUN di Kendari, sedang yang bungsu yang berumur 10 tahun masih duduk di bangku sekolah dasar (SD) Gondolayu. Pendidikan terakhir Pak Yanto sendiri adalah SMA kelas 1 pada tahun 1966. Saat ini Pak Yanto dan keluarga berdomisili di Jogoyudan, Yogyakarta.

Pekerjaan pokok Pak Yanto saat ini adalah sebagai pedagang angkringan, sedangkan pekerjaan Bu Lastri istrinya adalah sebagai ibu rumah tangga, dan juga membantu suami di angkringan. Waktu bagi Bu Lastri membantu suami (Pak Yanto) di angkringan biasanya berkisar dan pukul 08.00 WIB sampai dengan pukul 13.00 WIB; tapi harinya tidak menentu, tergantung situasi dan kondisi. Waktu selain itu, dihabiskan Bu Lastri untuk melaksanakan pekerjaan yang umum sebagai ibu rumah tangga. Waktu kerja (buka) Pak Yanto sendiri di angkringan adalah dan pukul 07.00 WIB sampai dengan pukul 17.00 WIB.

Untuk waktu pekerjaan persiapan dagangan, Pak Yanto hanya menghabiskan waktu 30 menit sampai 1 jam. Hal ini dikarenakan dagangan Pak Yanto tidak dimasak sendiri melainkan dibeli di pasar Kranggan kurang lebih pada pukul 06.30 WIB karena saat itu makanan masih baru dan segar.Kalau seandainya dagangannya tidak habis terjual, maka hal tersebut sudah menjadi tanggungan / risiko pak Yanto sendiri. Selain itu juga ada dagangan yang merupakan titipan dari orang. Khusus yang titipan ini, kalau dagangannya tidak habis, risikonya ditanggung oleh penitip, bukan oleh Pak Yanto. Jadi pekerjaan persiapan Pak Yanto dan istrinya hanyalah berbelanja, menatanya di gerobak, dan mendorongnya ke jalan Pangeran Mangkubumi.

Waktu antara pukul 18.00 WIB sampai dengan pukul 06.00 WIB dihabiskan Pak Yatm untuk beristirahat di rumahnya di Jogoyudan. Sedangkan waktu libur (tidak buka) bagi Pak Yanto adalah hari Minggu, karena pada hari itu dikhususkan olehnya untuk berdoa bagi Tuhan, termasuk ibadah ke Gereja Pentakosta.

Pada saat angkringannya buka, biasanya Pak Yanto memiliki langganan tetap yaitu karyawan kantor dan atau toko di sekitar tempat la “mangkal” Selain itu, ada juga pembeli yang silih berganti yaitu para pejalan kaki pedestrian yang lewat di sana.

Status gerobak Pak Yanto adalah miiik sendiri, sedangkan status tempat ia berjualan di jalan Pangeran Mangkubumi bersifat tidak permanen, karena pada saat dagangannya tutup, pak Yanto akan membawa pulang semua atribut dagangannya ke rumah, kecuali gerobak dan bangku yang diparkirnya di bekas kantor departemen tenaga kerja (Depnaker) yang kondisi fisiknya saat ini sudah rusak parah. Komplek bangunan itu dimanfaatkan untuk tempat parkir kendaraan bermotor, di samping di beberapa titik tercium aroma pesing, karena memang ada orang yang memanfaatkannya untuk buang kotoran atau hajat, apalagi diperparah dengan kondisi jalan Pangeran Mangkubumi yang tidak memiliki MCK umum yang memadai sampai saat ini.

Walaupun Pak Yanto membawa pulang atributnya, orang lain (sesama pedagang) tidak akan merebut lokasi yang sudah ditempatinya, karena lokasi tersebut sudah menjadi “milik” Pak Yanto menurut kesepakatan spontan mereka, sesama pedagang.

Khusus untuk pengalaman kerja, Pak Yanto sudah cukup banyak “makan garam”. Pada tahun 1973 ia mengikuti proyek Pabrik Semen Cibinong, Jawa Barat; pada tahun 1976 bekerja di PT Nusantara-Cilacap; pada tahun 1978 di PT Bogasari-Jakarta; pada tahun 1979-1982 di Perusahaan Gula Kebon Agung-Malang, Jawa Timur. Pada tahun 1982 ia pindah ke Kendari dan membuka usaha dagang Soto sampai dengan tahun 1997, sampai akhirnya Pak Yanto pindah ke Yogyakarta, dan pada tahun 1998 ia mulai menjalani pekerjaan barunya sebagai pedagang angkringan di jalan Pangeran Mangkubumi sampai sekarang.

Pak Yanto pun memplesetkan nama warungnya dengan singkatan WTS : “Warung Trotoar Suyanto”, ditulis di terpal birunya. Hal lain yang unik adalah semua gelas tangkainya diberi Tanda Salib besar dengan cat biru, simbol ke-Kristenannya.

(Sumber: diedit dan disempurnakan dari catatan lapangan Maximillian / 9328 TA, tahun 2003).

Pada waktu catatan ini dibuat Maximillian Nalang Firman Demorin adalah mahasiswa Prodi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Sekarang Max sudah lulus. Catatan lapangan ini ditayangkan untuk memperkaya informasi tentang fenomena PKL di Yogyakarta, yang pernah menjadi bahan kajiannya dalam tugas Kerja Praktek Lapangan. Tayangan tulisannya di blog ini merupakan bentuk penghormatan atas jerih-payahnya mengungkapkan fenomena angkringan di Jl. Mangkubumi, Yogyakarta.

Djarot Purbadi


Leave a response

Your response:

Categories