Informasi tentang Pak Purwanto di temui peneliti di Malioboro yaitu di warung lesehan ayam goreng miliknya bernama (Citra Nikmat) yang terletak di utara pintu Gedung DPRD sisi utara. Dari pegawainya diperoleh informasi bahwa Pak Purwanto mempunyai 4 warung seperti itu yaitu : Lesehan Citra Nikmat (Malioboro, Depan DPRD), Lesehan Wisata Nikmat (Malioboro, Depan Komplek Kepatihan), Warung Makan Jaya Nikmat (Gejayan, dekat Hotel Radison), dan Warung Makan Jaya Nikmat (Jl. Kaliurang dekat Farmasi). Dia juga menceriterakan bahwa dulu sampai sekarang (sudah cukup lama) Pak Purwanto menjalankan bisnis pemborongan bangunan selain membuka warung.
Riwayat mengenai warung ceriteranya panjang. Pertama buka adalah Lesehan Citra Nikmat yang di depan DPRD, kemudian buka kedua Lesehan Wisata Nikmat yang terletak di depan kompleks Kepatihan, ketiga dibuka yang di UGM (Jaya Nikmat) dan keempat warung yang ada di Gejayan (Jaya Nikmat).
Menurut pengakuan salah satu pegawai, anak buah Pak Purwanto yang bekerja untuk warung makan berasal dari orang-orang sekampung (desa) karena dapat dipercaya. Warung lesehan ayam goreng rata-rata buka pukul 16 s.d. 24.00, dan pada saat tutup tempat ditinggalkan harus dalam keadaan bersih. Pak Purwanto berasal dari Wonosari. Warung lesehan merupakan pekerjaan pokok bagi Pak Purwanto, ia dikatakan “ngongso” oleh keponakannya yang membantunya di Malioboro (pelayan laki-laki yang diwawancara adalah keponakannya)
Lesehan ayam goreng Wisata Nikmat yang ada di depan kompleks Kepatihan dijaga oleh keponakannya, sedangkan yang di tempat lain dijaga oleh anak buahnya yang dapat dipercaya. Menurut keterangan pegawainya itu, pedagang bakso di sebelah selatan warung lesehan Citra Nikmat ini adalah keponakan Pak Purwanto. Jadi tampak ada faktor kekerabatan yang cukup menarik di Malioboro. Pada saat wawancara dilakukan terlihat ada keakraban antara pegawai warung lesehan dengan petugas parkir yang duduk di kursi di warung lesehan itu, juga ada “gangguan” pengamen yang diberi uang receh Rp.500 cemberut.
Menurut pengakuan Pak Purwanto, Warung lesehan ayam goreng miliknya dianggap sebagai pekerjaan istrinya, sedangkan pekerjaan pokok dirinya adalah pemborong. Sekarang istrinya sedang hamil jadi dia di rumah dan tidak dapat aktif di warung. Oleh karenanya, Pak Purwanto sangat aktif bekerja ya mborong ya marung.
Dia berceritera bahwa baru saja selesai mengikuti pertemuan dengan lurah, camat dan walikota berkaitan dengan penataan kota Yogyakarta tahun 2004-2005. Menurut pengakuannya, ia adalah ketua PPLM (Paguyuban Pedagang Lesehan Malioboro). Dalam catatannya ada sekitar 43 pedagang lesehan terdaftar sebagai anggota namun tidak semuanya aktif. Ia juga berceritera bahwa akan ada lomba desa tiap kecamatan tetapi instruksinya lewat kecamatan (Gondomanan), khususnya menilai dalam masalah administrasi – sumberdaya – pembukuan. Dia juga berceritera ikut ngurusi paguyuban pedagang kaki lima di UGM khusus lesehan, yang sedang ada masalah karena tidak ijin rektor UGM. Paguyuban disana mengadakan kerja bhakti kebersihan Minggu pagi di lokasinya sendiri-sendiri.
Dalam paguyuban ada aturan-aturan yang harus ditaati anggotanya, ada juga tarikan uang kesejahteraan 50 ribu per-kepala, tidak boleh jualan 24 jam, ada AD-ART yang disusun oleh Paguyuban Pedagang Kali Lima Jalan Kaliurang. Dia juga mengurusi kelompok pedagang kaki lima di Gejayan, katanya mau tidak mau di setiap tempat ada paguyuban. Pak Purwanto mengaku juga punya warung makan lesehan di Pakualaman di depan Primagama dan di depan LPK (dua tempat).
Menurut penuturannya, pelanggar peraturan dapat menimbulkan sanksi “digaruk” sesuai kesepakatan. Pak Purwanto mengaku aktif sekali dalam organisasi PPLM sebagai ketua dan aktif berhubungan dengan pejabat-pejabat pemerintahan kota. Dia juga menjadi pemborong freelance untuk membangun pekerjaan pembuatan rumah secara privat dengan aturan yang tidak terlalu ketat, atas dasar kepercayaan. Sejak tahun 1983 telah aktif di Malioboro di A.Yani, dia juga mendata pedagang di setiap waktu, ada masalah dia selalu terlibat dan dilibatkan menangani karena memang orang lapangan.
Pak Purwanto tinggal di kampung Macanan, jumlah tenaga kerjanya 18 orang untuk warung lesehan. Tenaga untuk pemborongan terdiri atas tenaga muda – muda dibawah 45 tahun dan sudah berpengalaman, hanya rumah elit-elit yang dibangunnya. Ia juga mengontrak truk untuk mendukung pekerjaan pemborongan. Menurut pengakuannya, dari 6 warung yang dimiliki, hanya 5 yang aktif dan satu tidak aktif yaitu yang di depan Samijaya.
Katanya, waktunya habis untuk ngurusi warung dan tetek-bengeknya. Ia bekerja mulai pukul 05.30 pagi melakukan persiapan (siap-siap) dan pulang malam, jadwalnya sudah rutin. Konon bisa mandiri karena diberi pinjaman modal oleh seseorang karena dia sudah punya modal tempat. Keuntungan dibagi dengan pemilik modal berdasarkan pembagian saham. Teman yang meminjami modal itu adalah teman se-desa, teman SMP yang senang mengembara. Istri Pak Purwanto berasal dari Imogiri.
Mengenai tenaga kerja atau pegawainya, Pak Purwanto berceritera bahwa “tenaga sudah mengakar”, katanya :“kakange melu kulo kalih adine – adine, kakange dikawinkan ganti adine”. Tenaga kerja “orang sini ora gelem”. Pegawainya ada 18 terdiri atas laki-laki 12 orang perempuan 4 orang dan satu pembantu rumah tangga. Pegawainya berasal dari tetangga yang kurang diperhatikan keluarga dan diberi pekerjaan olehnya, ada juga saudara-saudara sendiri, jadi sifatnya kekeluargaan.
Pada waktu terjadi OPK dia tahu kejadian itu yaitu sekitar 20 tahun yang lalu. Dia juga terlibat dalam diskusi-diskusi dengan walikota berkaitan dengan penertiban minuman keras. Katanya, kalau pengecer dapat ditanggulangi tetapi bossnya tidak ditangani jadi ya tidak selesai masalahnya, sekarang banyak penganggur tetapi tidak mau kerja keras.
Tentang komunitas penjual bakso di depan gedung DPRD, katanya :”itu pendirinya saya – perintisnya saya, dari sini sampai Garuda itu biso nyothot bakso itu ikut saya. Tahun 1997 baru ada 8 gerobak bakso di Malioboro, sekarang sudah banyak”. Ada peralihan kegiatan terjadi pada Pak Purwanto : dia mula-mula jualan bakso terus ke warung lesehan. Dia punya pengalaman ngurusi organisasi PKL sesuai dengan keikutsertaannya. Jadi dia termasuk penghuni Malioboro generasi lama. Lesehan di barat jalan setelah reformasi tidak laku karena gerobak PKL tidak disingkirkan.
Menurut Pak Purwanto, dia juga merintis diadakannya daftar tarif pada setiap warung lesehan (setelah ada kasus nama jelek), pemasangan tarif harga disetujui anggota, walikota, paguyuban lain di MBR dan paguyuban pengusaha restoran. Soal harga ada kesepakatan. Lesehan yang tanpa daftar tarif adalah pedagang musiman (jadi dia menganggap dirinya pedagang permanen !!). Pada tahun 1984 di Malioboro ramai makanan burung dara sekarang ayam goreng.
Kapling warung lesehan hanya seluas tenda tetapi ada kerjasama dengan parkir apabila diperlukan ruang yang lebih luas sampai menggunakan tempat parkir, ada uang pengganti kalau warung ramai dan intervensi ke ruang parkir. Kegiatan parkir pukul 08.00 s.d. 16.00 dan shif kedua adalah pukul 16.00 s.d. 21.00. Katanya, petugas parkir juga ada ketua regu (ada paguyuban atau pengurus). Soal kehilangan kendaraan sekarang berat dan tarif parkir 500.
Pak Purwanto menikah tahun 1987. Pak purwanto termasuk pedagang tertua di Malioboro, sekarang sebagai ketua PPLM. Dulu tidak boleh berjualan di depan DPR sekarang boleh karena ada kesepakatan jam penggunaan. Itu juga salah satu jasa Pak Purwanto karena, ia melakukan komunikasi dengan pihak-pihak yang terkait, khususnya bicara tentang waktu “manakala kantor aktif manakala tidak dan peluangnya digunakan untuk PKL”.
Dia berganti jualan (bakso – burung dara – ayam) karena menurutnya ia jeli melihat peluang dan orang lain sekarang ini lebih dilihat sebagai tiru-tiru. Ia juga punya usulan yaitu perlu ada rumah yang dapat digunakan untuk menyimpan gerobak supaya jalan setelah malam bersih. Ditarik iuran 50 ribu per-bulan saja oke kok. Ia juga berpikiran bahwa, penataan Malioboro seharus berdasarkan fakta lapangan. Paguyuban juga dilibatkan dalam iuran kecamatan / kelurahan berkaitan dengan lomba dll,
Situasi sekarang dagang warung lesehan sepi (karena pedagangnya banyak tetapi peminat atau pembeli sedikit / tetap). Menurut Pak Purwanto karena pedagangnya semakin banyak dibandingkan dulu (kemungkinan sejak reformasi). Ia juga menuturkan bahwa karyawannya tinggal di rumah, di kontrakkan 2 (dua) rumah satu untuk putra dan satu untuk putri. Dia dan keluarganya juga menyewa satu rumah untuk keluarganya di daerah Macanan itu.
Sumber: catatan wawancara lapangan, Juli 2003
Djarot Purbadi